Keberpihakan dan Ilmu Pengetahuan: Wawancara Dengan Arkeolog Anarkis Theresa Kintz
Theresa Kintz telah melakukan banyak penggalian semenjak tahun 1980-an, melihat hasil kerjanya melalui sudut pandang anarkis dan memaparkan pemahamannya yang berdasar pada fakta-fakta sejarah dan arkeologis yang berhasil ia temukan, melalui publikasi arkeologi-radikal bertitel The Underground. Pada tahun 1998 ia menjadi salah satu editor jurnal Earth First! Journal di mana ia secara terbuka mendukung pembakaran Vail (sebuah proyek pembangunan resort peristirahatan di Colorado), yang merupakan serangan terbesar dan sukses pertama dari grup ELF (Earth Liberation Front) di Amerika Serikat. Dalam editorialnya, ia berkata, “Secara personal aku tak memiliki masalah dengan penyerangan terhadap Vail Inc. Aku tak memiliki masalah saat melihat fasilitas mereka dibakar habis. Ini adalah sebuah perang.” Saat masih menjadi editor jurnal tersebut jugalah ia menjadi salah satu orang pertama yang melakukan wawancara dengan Ted Kaczynsky dan melempar walikota Eugene, Jim Torrey, dengan sebuah pie. Selama itu pula ia masih menjabat sebagai staf pengajar di bidang antropologi Universitas Wilkes, Amerika Serikat. Ia juga menjadi pekerja dalam sebuah firma arkeolog, CRM (Cultural Resources Management), yang telah banyak melakukan penggalian arkeologis di berbagai belahan dunia. Tentu saja, pendapatnya di bawah ini masih dapat diperdebatkan. Tetapi setidaknya ia berhasil memaparkan beberapa fakta yang berhasil ia temukan dari kajian dan penelitian arkeologisnya, tentang realitas yang dihadapi manusia saat ini.
Bagaimana anda menjadi terlibat dalam bidang antropologi dan arkeologi?
Berbicara tentang akademis, tentu karena ada kesempatan. Seperti kebanyakan orang lainnya, saat pertama aku masuk universitas aku tidak tahu apa itu antropologi. Setelah membaca mata kuliah yang ditawarkan, aku mengambil dua kelas antropologi dan keduanya segera menjadi favoritku. Aku ingat saat hari pertama di kelas antropologiku. Sang profesor meminta kami semua untuk menuliskan sebuah definisi dari kata ‘primitif’. Ia lantas mengumpulkan dan membacakannya keras-keras serta kami mulai terlibat dalam sebuah diskusi yang menarik tentang arti kata tersebut. Kukira semenjak hari tersebut, pada dasarnya aku berusaha mendefinisikan primitif dan juga peradaban, serta mengomparasikan dan mengontraskan keduanya. Aku melakukan hal tersebut di semua kelas yang kuajar, untuk menglarifikasi apa yang kami diskusikan saat kita menyebut sesuatu sebagai ‘primitif’.
Definisiku tentang kata ‘primitif’ pada utamanya merujuk pada sebuah tahap paling awal: orisinil, pertama kali, hal dalam inkarnasi paling awal. Saat berbicara mengenai orang-orang primitif, apa yang dimaksud oleh para antropolog dan arkeolog adalah orang-orang yang gaya hidupnya paling dekat dengan gaya hidup pemburu-pengumpul, yang dianggap sebagai ‘manusia pertama’. Terdapat juga perahu primitif, abjad primitif, senjata primitif, komputer primitif… tentu saja terminologi tersebut membutuhkan klarifikasi semenjak apa yang dianggap sebagai yang pertama, selalu dapat diperdebatkan. Tetapi aku tidak melihat terminologi primitif sebagai sesuatu yang peyoratif, primitif tidak sekedar berarti sederhana, kurang kompleks, mentah atau naif. Aku melihat penggunaan terminologi primitif sebagai sebuah undangan untuk mengeksplorasi dan mendiskusikan sejarah.
Berbicara secara profesional, aku menjadi seorang arkeolog atas alasan-alasan praktis, aku ditawari pekerjaan. Hal itu terjadi di awal CRM (Cultural Resources Management) dan aku mulai bekerja di lapangan bagi sebuah firma arkeologis tepat sebelum aku menyelesaikan jenjang S2. Aku menyukai pekerjaan tersebut—melewatkan hari-hariku dengan bekerja di alam luar, terlibat dalam kerja fisik yang berat dengan sekelompok kecil orang yang berbagi pandangan yang sama, tentang bagaimana seharusnya manusia hidup. Kombinasi stimulasi intelektual dan latihan fisik menjadikan arkeologi sebagai pekerjaan harian yang sangat memuaskan. Apabila seseorang harus bekerja, menjadi seorang penggali akan sangat menyenangkan, kupikir demikian. Selama lebih dari 16 tahun aku telah bekerja di lebih dari seratus situs, di 14 daerah yang berbeda dan 3 negara. Rata-rata penggalian membutuhkan waktu sekitar enam minggu, sehingga selama bertahun-tahun aku hidup nomadik. Situs-situs itu sendiri biasanya terdapat di daerah yang jauh di pedesaan pinggiran, bahkan kadang di tengah hutan, pinggir gunung; atau di kotakota yang dulu pernah dikolonisasi sepanjang sejarah Amerika.
Arkeolog banyak mengamati dunia yang sekarang kita huni. Fokus esensialnya untuk memahami sejarah relasi antara tanah dan manusia, berusaha untuk mengetahui apa yang telah terjadi selama 20.000 tahun terakhir yang membuat kita menjadi seperti ini. Karena bidang kerjaku sebagai seorang arkeolog aku mulai memahami sesuatu tentang rantai kejadian yang telah membawa kita dari Zaman Batu hingga Zaman Luar Angkasa. Kini saat aku melihat pada sebuah lanskap, aku melihat sejarah tempat tersebut, evolusi dari gaya arsitektural, hadir dan menghilangnya industri, timbul dan tenggelamnya kekuasaan politik, perubahan dalam teknologi, melenyapnya masyarakat, dan sebagainya. Sejauh ini aku melihat subyek yang berkaitan dengan antropologi itu menarik… kupikir memang lebih kompleks. Sepintas aku dapat mengatakan bahwa ini adalah sebuah ketertarikan yang intens tentang dunia yang kuhidupi dan tentang mereka yang lain. Aku telah berada di sekitar orang-orang dari kultur ‘lain’. Aku teringat pergi mengunjungi rumah kawan-kawanku yang suku ‘asli’ dan Hispanik, kemudian kagum dengan betapa berbedanya hidup mereka dulu, jenis makanan yang mereka makan, bahasa yang digunakan orangtua mereka, cara mereka merayakan hari libur, dan sebagainya. Dan saat aku mulai belajar ini semua, aku tinggal dengan seorang Aljazair dan dikelilingi oleh kultur Arab. Aku mulai menyadari bahwa seluruh pandanganku adalah sebuah produk dari manifestasi kultural dan temporal di mana aku dibesarkan, dan hal tersebut memberiku sebuah perspektif yang baru. Pada esensialnya, aku menemukan konsep relativisme budaya dan mulai membayangkan apakah benar ada yang disebut universalitas dalam konteks pengalaman manusia, semenjak hal tersebut adalah aspek besar dari subyek yang dikaji oleh antropologi. Kukira aku terpanggil ke arah tersebut.
Dapatkah anda mendeskripsikan perbedaan dalam dua bidang ilmu tersebut dikaitkan dalam implikasi atas hasil kerjanya? Dapatkah anda memberikan sedikit pandangan historis tentang perpecahan ini?
Di Amerika Serikat, arkeologi diajarkan sebagai salah satu dari empat sub-disiplin ilmu dalam antropologi; tiga yang lainnya adalah antropologi fisik (studi tentang evolusi manusia), antropologi budaya (studi tentang kultur-kultur yang masih hidup) dan linguistik (studi tentang bahasa). Di Inggris semua hal tersebut diajarkan secara terpisah. Aku sendiri melihat antropologi dan arkeologi memiliki subyek penelitian yang sama, studi kemanusiaan dalam segala perbedaannya, melalui historisnya masing-masing, di sepanjang dunia. Arkeologi biasa dikenal dan didefinisikan oleh aktivitasnya: penggalian. Fokusnya adalah menemukan kembali obyek-obyek dan menganalisa tentang apa yang dikisahkan oleh obyek-obyek tersebut tentang gaya hidup orang-orang yang menggunakannya. Dalam pengertian ini, engkau dapat berargumen bahwa secara teknis, para antropolog mempelajari kultur-kultur yang masih hidup, sementara para arkeolog mempelajari budaya-budaya di masa lampau melalui subyek-subyek yang masih ada, membicarakan mengenai ‘budaya’ dalam konteks konstuksi-konstruksi kategoris: antara lain, ekonomi, politik, organisasi sosial, strategi subsistensi, teknologi, dan lain sebagainya. Baik antropolog maupun arkeolog akan melihat pada elemen-elemen dasar yang sama dan berupaya untuk mendeskripsikan budaya-budaya yang mereka pelajari, di masa lampau ataupun di masa kini. Bagiku antropologi tampak sebagai sebuah sosiologi eksotis. Tentu saja, disiplin ilmu ini baru muncul belakangan, sekitar akhir abad ke-19, dan secara langsung selalu diasosiasikan dengan Zaman Kekaisaran saat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya menemui dan menulis tentang ‘perbedaan suku pedalaman’. Pemikiran menarik, seseorang dapat mengajukan argumen bahwa antropologi ‘primitif ’ hadir di era Yunani Kuno dan Romawi yang mencatat tentang perilaku berbeda dari mereka yang dijumpai saat kekaisaran-kekaisaran tersebut memperluas diri. Bahkan apabila catatan-catatan tersebut lebih dianggap sebagai catatan perjalanan, deskripsi-deskripsi yang diberikan menjadi sumber literatur antropologis.
Di AS, para antropolog pertama menangkap secara literer subyek-subyeknya, yaitu suku asli Amerika, dan begitulah bidang ilmu ini pertama kali dikembangkan di AS. Audiensi utama bagi hasil kerja para antropolog dan donatur utama mereka tentu saja pemerintah AS, Biro Urusan Indian dan hasil-hasil kerja mereka akan digunakan untuk mencari cara terbaik untuk menundukkan populasi indian. Menariknya, para antropolog awal tersebut seringkali menyayangkan hilangnya perbedaan budaya akibat gerusan peradaban dan lantas menulis dengan penuh simpati atas subyek-subyek mereka, kehidupan liar dan bebas yang murni di tengah Eden. Memang, mereka tidak melakukan apapun untuk menghentikan genosida kultural yang tengah mereka saksikan. Hal yang sama juga terjadi pada diri antropolog-antropolog awal Eropa seperti Levi-Strauss dan Malinowski yang bekerja dalam koloni-koloni di Afrika, Asia dan Oseania. Arkeologi memiliki sedikit perbedaan historis. Bahkan saat ini saat aku mengatakan pada seseorang bahwa aku adalah seorang arkeolog, maka biasanya ia akan bertanya, “Di mana engkau menggali? Mesir? Roma? Yunani?” Pada awalnya arkeologi klasik memang memfokuskan diri untuk meneliti peradaban-peradaban besar yang pernah ada. Banyak orang masih berpikir bahwa arkeologi adalah penelitian reruntuhan besar yang seksi seperti piramida, berburu ‘harta karun’ berupa emas dan perak, menemukan kembali seni-seni abad lampau. Pada awalnya memang arkeologi adalah sebauh perburuan harta karun yang dilakukan oleh para akademisi yang kaya, memiliki tim privat, dan kolektor benda antik, yang lebih mirip sebagai peneliti sejarah seni dibanding antropologi. Museum-museum awal adalah berupa ‘pajangan yang menimbulkan keingintahuan’ di mana kapak Zaman Batu akan dipajang bersanding dengan gading gajah dan tengkorak kepala yang disusutkan. Penggalian yang sistematis baru hadir belakangan, satu dari yang awal dilakukan di AS adalah laporan tertulis yang dilakukan oleh Thomas Jefferson yang ‘menggali’ kuburan suku asli Amerika di lahan yang menjadi propertinya di Virginia di akhir tahun 1700-an. Aku bisa mengatakan bahwa penerimaan yang luas atas teori evolusilah yang mengirimkan arkeologi ke dalam jalur yang berbeda. Sekali saja diterima bahwa manusia berevolusi dari nenek moyangnya yang primata, maka penelusuran kronologi even-even tersebut langsung dimulai. Dalam poin ini, manusia menjadi sekedar binatang lain yang evolusinya dapat dipahami melalui riset ilmiah di mana artefak-artefak akan dipandang sebagai catatan fosil dari kultur-kultur masa lampau. Semenjak itu kisah tentang kemanusiaan dibuka oleh para antropolog fisik dan arkeolog.
Implikasi dari hegemoni paradigma ilmiah tersebut dan peran para arkeolog sebagai pengisah kemanusiaan menjadi sedemikian luas. Para arkeolog berkisah tentang masa lampau, jenis-jenis pertanyaan yang kita tanyakan dan jenis-jenis jawaban yang kita dapatkan sepenuhnya terpengaruh oleh kultur masa kini. Inilah satu hal yang melalui perspektif anarko-primitivis (AP) tentang pra-peradaban diilustrasikan dengan baik. Ambil fakta-fakta dasar evolusi manusia dan kita akan sampai pada kesimpulan bahwa kita hidup di tengah dunia terbaik yang mungkin terjadi, tetapi beberapa juga berpendapat bahwa kita hidup di tengah dunia yang terburuk yang pernah terjadi.
Arkeologi dan antropologi secara alamiah telah berkembang dari peradaban yang sedang kita usahakan untuk hancurkan. Keduanya adalah bagian dari ilmu pengetahuan ilmiah, yang sebagaimana bidang ilmu lainnya, telah digunakan untuk membenarkan eksploitasi dan penghancuran demi ekspansi kekaisaran-kekaisaran. Bidang-bidang ilmu tersebut juga masih memroduksi sejumlah informasi yang menunjuk ‘sesuatu yang berdampingan dengan sisi alamiah’ sebagai sesuatu yang peyoratif. Lantas apakah anda merasa bidang ilmu seperti sejarah akan mampu secara valid memroduksi sebuah alternatif? Atau mungkin seperti layaknya instrumen peradaban lainnya, bidang-bidang tersebut hanya memproduksi apapun yang diinginkan para ‘ilmuwan’?
Tidak diragukan lagi bahwa arkeologi telah dan masih menjadi sebuah upaya dari pemapanan dan hasil kerja dari kebanyakan arkeolog tidak pernah menantang sosiopolitik status-quo. Ini adalah satu hal yang paling kulihat dengan kritis dari penulisan-penulisan arkeologis. Ambil contoh profesi CRM. CRM eksis sebagai sebuah hasil dari legislasi pemerintah. Di awal tahun ’80-an sebuah undang-undang disahkan, berada di bawah Hukum Perlindungan Lingkungan, yang berkata bahwa sebelum setiap proyek konstuksi dilakukan oleh sebuah agensi federal, misalnya Departemen Pertahanan membangun bendungan, Departemen Transportasi membangun jalan, atau industri yang diregulasi negara—seperti pipa gas yang merupakan bisnis besar bagi arkeolog—para developer harus mempersiapkan dulu sebuah laporan tentang dampak pembangunan tersebut. Bersamaan dengan dampak potensial proyek tersebut atas sumberdaya alam, mereka juga harus menyertakan laporan tentang dampaknya pada ‘sumberdaya’ kultural—situs-situs arkeologis. Maka kini berbatalion-batalion arkeolog dikirim oleh proyek-proyek para developer untuk menemukan, mencatat, dan seringkali menggali situs-situs yang akan dihancurkan oleh mereka.
Jelas, para arkeolog adalah agen-agen penguasa. Kami memfasilitasi proyek-proyek pembangunan, membersihkan jalan bagi para developer. Kami telah dibeli, kami bekerja untuk mereka, bisnis kami datang sebelum buldozer-buldozer datang. Telah bertahun-tahun lamanya aku telah mengajukan pendapat bahwa hal seperti ini telah mengompromikan integritas intelektual kami. Para arkeolog dapat juga sangat kritis terhadap perkembangan yang tak berkelanjutan dewasa ini, John Zerzan telah menggunakan bukti-bukti arkeologis dengan sangat efektif. Kami dapat mengajukan argumen bahwa apa yang kita lihat sekarang ini dalam konteks ekspansi global dari peradaban adalah sesuatu yang sangat merusak bagi manusia dan setiap makhluk hidup yang ada di atas planet ini. Kami tahu, misalnya, ekploitasi berlebihan atas sumberdaya alam yang terdapat di sekeliling habitat manusia, meningkatkan kompleksitas dalam kultur material dan teknologi, meningkatkan jenjang sosial, dsb. yang selalu menjadi ide buruk, dan merusak bagi lingkungan sosial maupun alam. Kami telah mempelajari kemunculan dan keruntuhan berbagai peradaban, kami paham beberapa fitur kunci yang menghadirkan penderitaan, penundukan, perusakan lingkungan, tetapi para arkeolog tidak pernah mencantumkan analisa seperti itu dalam laporan-laporan mereka. Para arkeolog sendiri tidak akan mengontradiksikan tujuan para developer, yang berarti akan menggigit tangan yang memberi makan mereka. Maka kebanyakan berusaha untuk merasa cukup puas dengan sekedar menggali dan menulis laporan-laporan superfisial yang mengompromikan deretan artefak yang berhasil ditemukan tanpa melihat hal tersebut dalam kerangka besar peradaban.
Arkeologi dan antropologi adalah disiplin ilmu yang saling bersinggungan, eksis sebagaimana mereka selalu berada di persimpangan antara ilmu pengetahuan ilmiah yang kaku dan kemanusiaan. Arkeologi benar-benar ingin menjadi sebuah disiplin ilmiah, dan beberapa di antaranya berusaha membuat klaim-klaim akan obyektivitas. Saat para arkeolog mendeskripsikan fenomena peradaban, mereka berusaha tampak deskriptif, sebagaimana teori-teori seharusnya, seperti seluruh teori-teori ilmiah, menampilkan nilai netralitas. Para arkeolog berkata bahwa mereka menulis tentang “bagaimana dulu terjadi” dan bukan “bagaimana seharusnya”. Refleksi kritis dilihat sebagai sesuatu yang politis dan tidak menjadi ruang lingkup riset arkeologis di banyak lingkar-lingkar arkeolog. Pengecualian dari jenis arkeologi tersebut adalah apa yang aku lakukan, ‘arkeologi radikal’, sebuah pengembangan yang hadir relatif belakangan ini yang mengoneksikan dengan feminis kontemporer dan perspektif-perspektif arkeologi Marxis. Para arkeolog radikal secara berhati-hati memilih pertanyaan-pertanyaan bagi riset yang didesain untuk mendemonstrasikan, sebagai contohnya, sejarah ketidaksetaraan sosial atau sejarah penundukan perempuan. Tentu saja, mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut melalui data arkeologis akan berakhir dengan penelitian politis dan para arkeolog tradisional sangat kritis terhadap trend seperti itu, berargumen bahwa para arkeolog radikal sama sekali tidak obyektif, yang tentu saja itu adalah omong kosong semenjak memang tak ada riset arkeologis yang netral.
Cukup menggelikan, setelah bertahun-tahun berbicara mengenai perspektif AP pada kolega-kolega arkeologku, kebanyakan setuju dengan argumen-argumen fundamental yang diajukan AP. Masalah yang ada adalah bahwa tampaknya orang-orang merasa tak berdaya untuk mengubah sesuatu. Mereka dapat menyetujui sepenuhnya dengan analisa peradaban yang ditawarkan oleh seseorang seperti John Zerzan, tetapi saat ditanyakan apakah akan mampu melakukan sesuatu untuk mengubah perjalanan peradaban, mereka berkata bahwa itu tak mungkin. Bahkan apabila para arkeolog menjadi semakin termotivasi secara politis dan menunjukkan bahaya peradaban, tak seorangpun yang akan mendengarkan kami. Kami hanya menunjukkan ‘fakta’ di luar sana. Ini bukanlah tempat bagi para arkeolog untuk membuat sebuah keputusan yang bernilai tentang apakah peradaban ini adalah sesuatu yang baik ataukah buruk, kami hanya mendeskripsikan evolusi. Jelas hal seperti ini yang melemahkan dan membuat para arkeolog menjadi bagian dari masalah, bukannya bagian dari solusi.
Aku merasa bahwa sebuah pemahaman akan masa lalu adalah sebuah instrumen penting bagi para aktivis. Mempelajari arkeologi dan antropologi membuka pikiran seseorang. Hal tersebut membuat kita menyadari bahwa banyak hal tidaklah seperti apa kelihatannya sekarang ini dan ada sebuah alternative lain bagi peradaban. Ini bukan sekedar sebuah teori politis yang abstrak, kita tahu bahwa manusia telah mampu hidup dengan baik selama ribuan tahun tanpa mobil, pendingin ruangan, komputer, telefon, dan lain sebagainya. Kita dapat memperbandingkan dan mengontraskan harga keseluruhan yang harus dibayar dan keuntungannya bagi peradaban apabila kita tahu banyak mengenai seperti apa hidup di masa lampau dan bagaimana di masa depan. Pengetahuan ini tidak membutuhkan gelar kesarjanaan atau bahkan kehadiran di sebuah kelas, orang-orang dapat mencari pengetahuan ini sendiri. Apa yang kita butuhkan sesungguhnya adalah rasa keingintahuan dan sebuah hasrat untuk memahami dunia yang kita tinggali saat ini dan bagaimana dunia bisa menjadi seperti sekarang ini. Saat aku mulai bekerja dengan Earth First! (EF!), aku cukup terkejut saat menemukan bahwa di antara kolektif para editor dan lingkar kecil orang-orang di sekelilingnya, mayoritasnya adalah mereka yang mendapat titel kesarjanaan di bidang antropologi. Aku berkata pada diriku sendiri bahwa aktivitas belajar-mengajar dapat menjadi sesuatu yang subversif, hal tersebut memiliki potensi revolusioner. Anak-anak didikku akan membaca Species Traitor, Jerry Mander, John Zerzan dan berbagai pemikiran AP serta apapun yang kita pikir akan membuka perspektif-perspektif tersebut. Mereka secara serius mendalami apa yang ditulis oleh para penulis tersebut. Aku mendorong juga agar anak-anak didikku mampu berpikir menurut diri mereka sendiri, untuk mempertanyakan otoritas—termasuk diriku—dan memahami banyak cara yang berbeda untuk melihat dunia, hal terpentingnya adalah untuk mampu melihat, bukan berpura-pura tak tahu hingga lantas membiarkan bisnis-bisnis besar dan para pembuat hukum menjalankan dunia. Beraksilah atas apa yang kita yakini.
Maka iya, aku yakin bahwa penelitian akan masa lampau, melalui arkeologi, memiliki potensi untuk mencerahkan dan memrovokasi pemikiran, bahkan aksi, dan kutekankan sekali lagi, bahwa ini tidak membutuhkan sebuah latar belakang akademik. Ini adalah ide inti tentang belajar semampu kita tentang dunia yang kita tinggali, itulah poin utama yang harus diajukan. Tentu saja, para pelajar dan mahasiswa akan harus melalui sekian banyak omong kosong dan kebiasaan dunia akademik, tapi jangan pernah percaya begitu saja pada para ‘ahli’, berpikirlah sendiri, pelajarilah sendiri apabila memang kita tak mau memasuki sebuah institusi. Ini adalah hal terpenting bagi para revolusioner untuk juga mempersenjatai diri dengan pengetahuan. Sejauh ini, sebuah perspektif revolusioner telah menawarkan pada arkeologi sebuah makna. Ini bukan sekedar pembicaraan antara para elit intelektual. Para arkeolog radikal kini telah mendorong disiplin untuk memahami peran yang dimainkan secara naratif di tengah masyarakat kita, menggarisbawahi peran di masa lampau, politik di masa lampau, dan juga di masa kini. Aku selalu heran dengan kekurangpekaan dunia arkeologi kebanyakan, yang melihatku sebagai seorang anarkis ekologis radikal, seseorang yang berkecimpung di dunia arkeologi dengan membawa sebuah agenda politis, seorang asing yang menginfiltrasi menara gading intelektual, sungguh itulah yang terjadi padaku. Di sisi lain, karena aku mempelajari dan bekerja dalam profesiku, banyak kamerad-kamerad radikalku yang seringkali melihatku sebagai bagian dari sebuah dunia akdemik mapan yang mempertahankan status-quo, seperti orang asing juga di sini. Aku berusaha untuk membuat jalan agar kedua kubu ini dapat saling membantu, bahkan apabila aku harus mendapatkan serangan dari kedua pihak.
Apakah anda merasa bahwa antropologi dan arkeologi adalah proses obyektif? Apa yang benar-benar mampu dihasilkan melalui informasi yang hadir dari metodologi demikian?
Arkeologi bukanlah sebuah proses yang obyektif. Ia berusaha mencari obyektivitas tetapi melalui subyektivitas. Jenis-jenis jawaban yang kita dapatkan sangat tergantung pada jenis-jenis pertanyaan yang kita ajukan. Misalnya, para arkeolog Marxis di Uni Soviet dulu akan menginkorporasikan sebuah agenda Marxis ke dalam riset arkeologis mereka. Ideologi dominan di AS dan Eropa adalah kapitalisme dan arkeologi kita akan membantu melegimitasi dan membenarkan hal tersebut. Sebagai contohnya, penasihat akademisku di Inggris akhir-akhir ini menulis sebuah artikel yang mengritisi satu dari arkeolog dunia terkenal yang membiarkan Shell Oil dan Visa untuk menjadi sponsor korporat dari penggaliannya di Turki. Profesor dari Cambridge, arkeolog lapangan, Ian Hodder, tampil di sebuah foto majalah mengenakan topi baseball berlogo Visa dan berkata, “obsidian adalah kartu kredit pertama,” yang secara esensial berkata bahwa kapitalisme memiliki sebuah sejarah yang panjang, tak terelakkan dan sebuah bagian alamiah atas kondisi manusia saat ini—mengerikan. Seluruh arkeologi memiliki politik dan situsnya sendiri, fisikal aktual yang masih tersisa dari masa lampau, yang seringkali merupakan batu bernilai tinggi secara kultural dan politis. Pikirkan saja soal even belum lama ini yang meletupkan intifada kedua di Palestina. Itu dikarenakan kunjungan Sharon ke sebuah situs arkeologis di Yerusalem. Taliban meledakkan patung Buddha raksasa abad lampau karena obyek-obyek tersebut merepresentasikan kejayaan non-Islam masa lalu yang mengancam kekuasaan rezimnya. Di Inggris, pembubaran sebuah keuskupan berlanjut dengan penghancuran secara fisik katedral-katedral tua dan ikon-ikon di dalamnya sehingga kekuasaan keuskupan tersebut dapat ditundukkan di bawah kekuasaan monarki. Contoh lain adalah penggunaan arkeologi untuk memromoikan nasionalisme. Bangsa membenarkan eksistensi dan identitas nasional mereka dengan memersatukan orang-orang menggunakan kesamaan historis, kultur dan bahasa. Di Jerman, para fasis Nazi berusaha memersatukan orang-orang dengan menggunakan ide kultur superior dan Mussolini juga demikian, mengobarkan superioritas kultur Romawi. Argumen para Zionis atas pendudukan Palestina berdasarkan pada interpretasi historis daerah tersebut di masa lampau.
Konsep kesamaan masa lalu orang-orang adalah sebuah instrument ideologi paling kuat, ide tentang ‘kami’ (yang benar) dan ‘mereka’ (yang salah). Konstruksi identitas nasional memang sangat kompleks. Beberapa elemen utamanya akan menjadi sejarah teritorial, bahasa, agama, organisasi ekonomi politik, bahkan kesamaan sumber makanan. Apa yang membuat orang Amerika itu Amerika, atau seorang Palestina itu Palestina, apa artinya menjadi Timur, atau Barat? Mengapa juga kita menggunakan terminologi seperti itu? Mendefinisikan siapa ‘kami’ dan siapa ‘mereka’ sangat berkaitan erat dengan sejarah, inilah yang penting untuk dipahami. Perspektif teoritis yang direngkuh para arkeolog dalam riset mereka secara konstan berubah dan berbeda di Eropa dan Amerika. Dalam konteks lingkar radikal, arkeolog Marxis dan feminis terdapat prosesual, pascaprosesual, strukturalisme, pascastrukturalisme, hermenetik, evolusioner, behavioral, seluruh mazhab pemikiran yang berbedalah yang mengurung pertanyaan-pertanyaan riset dan interpretasi data dari para arkeolog. Di AS semenjak tahun 1970-an, arkeologi prosesual yang baru telah mendominasi bidang tersebut. Para arkeolog cenderung melihat manusia sebagai mamalia lain yang hidup dalam lingkar ekologis. Subyek manusia dipelajari dengan cara yang sama saat engkau mempelajari evolusi spesies serigala atau mamalia sosial lainnya. Di satu cara aku melihat hal ini sesuatu yang baik, karena kita terus mengingat bahwa bagaimanapun juga kita adalah binatang. Tujuan risetnya adalah untuk memahami adaptasi manusia pada lingkungan yang spesifik, dan kebudayaan dilihat sebagai sebuah alat adaptasinya.
Para arkeolog itu seperti jurnalis, mereka bertanya tentang siapa, apa, di mana, kapan, mengapa, bagaimana. Penekanannya adalah pada ‘proses’ di mana organisasi sosial dan kultur material atau teknologi berubah, apa penyebab perubahannya dengan mencari pada tampilan, signifikansi dan dampak-dampak yang diakibatkan. Pertanyaan ‘mengapa’, antara lain seperti mengapa peralatan berburu berubah? Mengapa orang-orang mulai menanam? Mengapa mereka mulai mengonstruksi perahu dan menjelajah jarak jauh? Terdapat banyak hal yang dapat diperdebatkan—dan masih banyak lagi yang lebih menarik untuk ditemukan. Kita tak pernah tahu pasti, selain menelurkan hipotesa, menawarkan jawaban-jawaban yang mungkin. Kurasa di sini komunikasi inilah yang penting. Untuk satu hal, kita tahu tanpa ragu bahwa manusia berusaha menyelesaikan nyaris segala sesuatu yang dibutuhkan di kehidupan harian menggunakan hanya batu, tulang, peralatan sederhana dalam sebagian besar eksistensi manusia. Bagiku ini adalah fakta. Hal ini membuktikan bahwa apapun yang kita pikir kita butuhkan dewasa ini justru apa yang tidak kita butuhkan. Bukan niatku untuk mengatakan bahwa hidup sebelum peradaban adalah sebuah fridaus yang bebas dari kecemasan dan tak membutuhkan keuletan fisik. Tetapi secara keseluruhan aku akan berargumen bahwa arkeologi dapat membuktikan bahwa peradaban telah meningkatkan penderitaan bukannya menguranginya. Dan apabila semua dapat berbicara, maka pohon, sungai dan beruang apabila ditanya, mereka akan berkata bahwa dunia adalah tempat yang lebih baik sebelum peradaban muncul.
Antropologi dan arkeologi adalah sebuah disiplin yang antroposentris, bahkan saat kita menjelaskan bahwa manusia adalah juga binatang. Menurutku adalah sesuatu yang keliru saat memisahkan sejarah manusia dengan sejarah seluruh makhluk hidup dalam sebuah ekosistem yang kita tempati. Amatlah penting untuk memahami keterikatan antara semua makhluk hidup. Aku berusaha menjelaskan hal ini dalam hasil-hasil kerjaku. Kebanyakan pengalamanku di situs-situs pra-sejarah di Amerika Utara, kebanyakan di regional Appalachian. Dan inilah fakta dasar yang aku yakini sebagai hasil dari pengalaman personalku dalam arkeologi. Orang-orang hidup di sini selama 14.000 tahun dan hanya meninggalkan fitur-fitur yang tersebar dalam batu-batu, yang menjelaskan betapa mereka sedemikian dekat dengan alam. Tetapi apa yang kulihat pada lanskap yang sama saat ini, setelah digerus peradaban selama hanya beberapa ratus tahun? Bendungan, penebangan hutan, polusi limbah, reaktor nuklir, kota-kota seperti New York, sungai yang dialiri limbah asam beracun. Kontras yang sangat kentara. Tentu, manusia selalu mengubah alam di sekelilingnya, tetapi skala perubahan yang dialami di bawah peradaban telah terlalu jauh, dengan plastik dan besi dan seluruh limbah yang dihasilkan untuk memroduksinya, tingkat kerusakannya meningkat sangat jauh. Ini kita semua tahu, tak perlu seorang arkeolog.
Kembali pada praktik metodologi. Saat ada beberapa cara untuk mengaplikasikan riset arkeologi dalam konteks teori, sekrup dan mur praktik arkeologi cukup standar di manamana. Menggali dan mencatat—idealnya memang segala sesuatunya.Kami menggali di tempat yang diperkirakan menjadi lokasi sebuah situs, dalam upaya untuk mendapatkan artefak. Idealnya memang agar mampu menuliskan kisah tentang seperti apa situs tersebut dan bagaimana manusia tinggal di tempat tersebut. Di mana terdapat rumah, seperti apa bentuknya, dari apa ia dibangun, di mana pusat aktivitasnya, di mana mereka membuang sampah, bagaimana dan di mana mereka membuat peralatan dari batu, dari mana mereka mendapatkan batu, di mana mereka memasak, di mana mereka menyimpan binatang peliharaan apabila memang ada, di mana mereka menyembelih binatang, tanaman apa yang mereka makan, apakah mereka menguburkan mereka yang mati, di mana dan dengan apa. Semua hal tersebut diinvestigasi menggunakan teknik-teknik ilmiah seperti radio karbon agar dapat menentukan usia situs tersebut, analisa kimiawi untuk memahami area-area aktivitas mereka, analisa pollen untuk mendapatkan data soal tanaman yang tersisa, analisa lithic untuk mendapatkan teknik reduksi peralatan batu mereka dan sumberdaya mentahnya. Semua ini adalah deskripsi, tidak terlalu teoritis dan kontroversial sekedar memaparkan keberadaan dan ketiadaan material, data standar arkeologi. Hal ini yang spesialitas paling umum dalam riset arkeologi, dan hal paling tidak intelektual yang bisa dilakukan, seluruh kerja-kerja laboratorium, menimbang berat batu, dan sebagainya. Kebanyakan merasa cukup mengaplikasikan arkeologi tanpa konten teoritis. Menghabiskan waktu 7 tahun sebagai seorang pascasarjana menulis 80.000 kata disertasi yang mendeskripsikan ujung tombak dari batu yang didapat dari sebuah situs, apakah ini hasil dari sebuah riset besar? Manusia zaman dulu mendapatkan batu dari sumber lokal dan penggunanya bukan kidal. Siapa peduli? Apa yang terjadi dalam praktik arkeologi memang biasanya jauh dari ideal. Kita terus menerus dikejar oleh para developer untuk menyelesaikan pekerjaan kita secepatnya. Menyewa 30 arkeolog untuk bekerja di satu lahan situs selama beberapa bulan jelas sangat mahal bagi mereka, terutama apabila nantinya hasil penelitian tersebut justru menghambat rencana mereka. Maka dengan demikian, informasi lenyap. Sebagai satu contohnya, saat aku bekerja di sebuah situs di London, kontrak yang dibuat dengan developer memastikan bahwa kita hanya akan mencari situs yang berisi komponen peninggalan Romawi, maka kami menggali apapun dengan tanpa benar-benar mencarinya. Apabila yang kami temukan ternyata artefak dari bangsa Celtik, maka hal itu tidak akan dianggap berharga.
Tampaknya masyarakat beradab, dengan memegang erat Alasan dan Ilmu Pengetahuan, membawa imperialisme ‘Kebenaran’ dan ‘Obyektivitas’ untuk membenarkan kehancuran yang mereka lakukan demi ‘Kemajuan’. Dengan terjebak dalam mentalitas seperti itu, saat mencari ‘fakta’, kita sering menganggap sepele sesuatu yang penting secara sosio-kultural, seperti mitos. Dan menggantinya dengan sejarah yang terdokumentasikan: permainan para penakluk dan kolonial. Pandangan kita atas dunia tereduksi pada sesuatu yang tak memberi ruang pemahaman siklikal atas diri dan kemenjadian. Tampaknya antropologi dan arkeologi membadani gerakan seperti ini, mencari fakta dari masa lampau yang secara ilmiah telah dikonfirmasi, dan bukannya berusaha memahami apa yang diwariskan secara turun temurun. Atas alasan ini kita sering menemui sejumlah masyarakat primitif yang harus berurusan dengan para antropolog dan arkeolog yang seakan ‘mengetahui kebenaran’. Apakah ada jalan tengah yang dapat ditempuh untuk menjembatani dua perbedaan ini, atau apakah ada batasan-batasan yang perlu dibangun di antara mereka?
Paradigma ilmiah, yang berakar pada pola pikir Pencerahan, telah menggantikan segala jenis pandangan dunia dalam upaya memahami kebenaran. Amatlah sulit saat ini untuk meyakini bahwa dunia ini sebenarnya di usung di atas tempurung kura-kura, atau bahwa manusia hadir dari sebuah alam mimpi, misalnya. Peradaban kita kini menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan nilai alamiah dari eksistensi melalui molekul-molekul dan persamaan matematis. Bidang biologi, fisika, kimia, astronomi, matematika, mesin dan ekonomi kini diajarkan d semua institusi di seluruh dunia. Toh bagaimanapun juga, aku masih yakin bahwa mitologi-mitologi tradisional atau sejarah lisan jauh lebih resistan terhadap manipulasi ideologi. Kosmologi dari bangsa Mesopotamia atau bangsa Maya harus tampak ‘beralasan’ bagi kita para pengamat. Dan apakah arti ilmu pengetahuan ‘primitif ’? Metalurgi pertama di Zaman Besi membutuhkan pemahaman sederhana ilmu kimia dan fisika. Astronomi adalah juga ilmu yang dipraktekkan oleh nenek moyang kita, dan domestikasi pertama pada esensinya adalah biologi serapan primitif, manipulasi genetik atas tumbuhan dan binatang yang paling pertama kali. Dan sebagaimana beberapa dari kita akan menolak perubahan-perubahan yang merusak masyarakat kita seperti dalam soalan teknologi, relasi kekuasaan, dewasa ini; aku juga yakin bahwa ada juga mereka yang menolak ‘kemajuan’ sepanjang sejarah manusia.
Kukira engkau mengajukan sebuah poin yang sangat penting di sini. Ilmu pengetahuan menyediakan kita mitos kreasi modern dalam bentuk DNA, teori Ledakan Besar (Big Bang), dan lain sebagainya—walaupun banyak yang berpendapat bahwa hal tersebut tak lebih dari sebuah mitos, bahwa ide-ide kontemporer kita tentang dunia merefleksikan kenyataan jauh lebih banyak daripada sebelumnya. Hal ini arogan dan bodoh. Aku suka membaca buku-buku tua tentang sosiologi, psikologi, biologi dan lain sebagainya. Apa yang kita demonstrasikan sebagai sebuah ‘kebenaran’ yang telah terbukti secara ilmiah, suatu saat pasti saja dianggap aneh dan tak sesuai dengan kenyataan. Aku hidup dengan keyakinan bahwa tak ada kebenaran yang hakiki di luar sana yang dapat ditelusuri dengan ilmu pengetahuan ilmiah, yang ada hanyalah interpretasi yang cair atas kenyataan yang sedang kita hadapi. Tapi dengan tak adanya kebenaran sejati, bukan artinya lantas kita bisa berpura-pura tak mau berdiri atas sesuatu.
Dan ini juga poin penting lain yang digambarkan dalam antropologi dan arkeologi—apa arti sesungguhnya dari konsep penerimaan relativisme kebudayaan dalam konteks bagaimana seseorang hidup sehari-hari? Terdapat banyak perspektif yang berbeda tentang elemen-elemen paling mendasar dari hidup—tentang membesarkan anak, tentang relasi antar jenis kelamin, tentang cara memerlakukan binatang dan legitimasi kekuasaan. Apa yang perlu dilakukan adalah memahami opini-opini yang berbeda antarkultur, bahkan juga antarindividu dalam kultur, masa lalu dan masa kini yang berkaitan dan kita akan melihat bahwa dunia senantiasa berubah—apa yang tampaknya sesuatu yang ‘rasional’ di beberapa hal akan tampak menjadi konyol di masa lain. Bahkan sistem kepercayaan tradisional juga senantiasa berubah, sama sekali tidak statis. Apa yang menarik bagiku adalah tentang apa katalis yang terjadi dari perubahan-perubahan tersebut dan apa dampaknya bagi dunia yang kita tinggali ini. Sistem kepercayaan tradisional mana yang perlu dipertahankan? Merunut pada sistem kepercayaan tradisional di barat selama kurang lebih seratus tahun lalu, sebagai seorang perempuan, aku merasa tak mampu mendiskusikan hal ini denganmu. Aku tak akan mampu mendapatkan pendidikan dan kebingungan filsafatku tak akan mampu menemukan jalan keluarnya. Sebagai seorang mahasiswi ilmu politik aku mempelajari sejarah pemikiran politis dari Plato dan Socrates hingga Machiavelli, Hobbes dan Locke. Tak ada suara perempuan di antara mereka hingga di akhir abad ke-19, setidaknya dalam konteks pelajaran yang diberikan di universitas. Apakah itu artinya para perempuan di Barat tidak mampu berpikir Tentang politik sebelumnya? Apa yang berubah, apa yang membuatku kini terlibat dalam aktivitas ini? Dalam beberapa kultur tradisional, perempuan masih tidak bisa melakukannya. Apakah ini salah? Bagaimana pendapatmu? Hal ini mengilustrasikan sebuah dilema menarik. Apakah satu periode waktu atau sebuah sistem kepercayaan kultural, tradisional, mitologi, pandangan atas dunia, lebih baik, lebih benar, lebih rasional atau tercerahkan dibandingkan yang lainnya? Apa aspek-aspek dari sebuah tradisi yang buruk dan mana yang baik, dan atas dasar apa engkau menempatkan penilaian tersebut saat kita semua adalah tawanan dari manipulasi ideologis yang tak dapat kita hindari, sehingga tak ada lagi yang dapat dinamakan obyektif? Fitur-fitur mana dari kultur tradisionalku yang kupilih untuk kuberi respek dan mana yang kupilih untuk kutinggalkan?
Aku tak memiliki masalah saat meninggalkan mitologi Kristen yang mana aku dibesarkan dengannya. Aku membaca filsuf seperti Bertrand Russel dan berbagai argumen lain melawan Kristianitas saat aku muda dan memromosikan beberapa ide tersebut dengan terang-terangan saat melakukan makan malam bersama keluarga Katolikku. Tetapi aku kesulitan saat harus mendekonstruksi, untuk contohnya, sebuah tradisi Amerika asli dan tradisi Tao di mana aku melihatnya sebagai sesuatu yang memiliki hak untuk meyakini bahwa dunia ini cukup berbeda dari yang dipaparkan secara ilmiah. Cara terbaik adalah dengan menolak kecenderungan universalitas dan memberi respek pada keberagaman opini yang eksis dan dengan demikian aku juga memiliki pendapat yang sama atas Katolik, bahwa mereka memiliki sebuah hak untuk tetap terikat pada mitologi tradisionalnya walaupun tampaknya sangat irasional, ilmu pengetahuan memaparkan bukti-bukti bahwa mereka salah di banyak segi. Tetapi apa kerusakan yang dilakukan apabila kita tidak mengontradiksikan beberapa hal lain dari sebuah tradisi yang berkata, sebagai contohnya, perempuan harus taat pada lelaki, atau bahwa manusia adalah pemegang kekuasaan atas semua makhluk hidup.
Mungkin kebudayaan itu seperti individu, tak seorangpun yang sepenuhnya baik dan tak seorangpun yang sepenuhnya jahat. Ini alasannya mengapa mempelajari antropologi di satu sisi membingungkan tetapi di sisi lain mencerahkan. Saat tiba waktunya bagi kita untuk membuat penilaian tentang suatu praktik budaya, tradisi, mitos, di mana poin yang akan menjadi pijakan awalmu apabila tak ada fondasi obyektif untuk adanya kritik? Saat aku melihat pengetahuan ilmiah sebagai satu dari sekian banyak sudut pandang akan dunia, aku juga berpikir bahwa kadang tak dapat dipungkiri kala pemikiran tersebut hadir sejak awal. Lebih dari sekitar 10.000 tahun terakhirlah kelompok- kelompok kebudayaan dapat hidup secara relatif terisolasi. Saat kultur-kultur saling bertemu, hanya terjadi sedikit hasil akhirnya. Kultur-kultur tersebut dapat saling beradaptasi dan mengadopsi berbagai macam keyakinan dan kebiasaan yang diambil dari masing-masingnya, atau dapat juga tetap terpisah. Dan saat mereka saling terpengaruhi satu sama lainnya, khususnya dalam konteks perubahan kebudayaan material dan teknologi; sistem keyakinan mencakup asal muasal dan sifat kemanusiaan, legitimasi kekuasaan dan cara berelasi secara sosial, cara berpikirnya, tetap berbeda, beragam. Kita semua kini tiba pada saat di mana nyaris semua orang hidup beriringan dengan media massa, TV dan lainnya, sehingga saling mengetahui eksistensi yang lain. Kita telah menghadapi kenyataan bahwa terdapat sejumlah besar sudut pandang akan dunia yang dianut sepanjang waktu oleh orang-orang di ranah geografis yang berbeda, dan karenanya kita harus menerima implikasi dari fakta tersebut yang berarti bahwa tak hanya terdapat satu cara dalam melihat dan melakukan sesuatu. Walaupun demikian, beragam orang di seluruh dunia dipaksa untuk menyatu. Ini adalah sebuah perkembangan yang bertautan erat dengan bangkitnya paradigma ilmiah.
Pengetahuan ilmiah mengajukan klaim bahwa ialah cara obyektif di mana orang-orang yang beragam dapat berinteraksi satu sama lain dalam ranah yang sama, menggunakan bahasa, ‘alasan’, metoda ilmiah yang sama, untuk mencapai satu kesepakatan akan hal-hal yang sangat fundamental. Maka kini hadir kultur global, dan sudut pandang akan dunia global barunya adalah paradigma ilmiah. Pengetahuan ilmiah diajarkan dengan relatif sama di universitas-universitas di Zaire, New Guinea, Guatemala, Cina,Saudi Arabia—inilah bahasa universal yang diterima kebanyakan. Engkau perlu tahu soalan mesin, kimia dan fisika untuk membangun sebuah pertambangan minyak atau bom nuklir, biologi untuk mematikan penyakit-penyakit yang telah diketahui, matematika untuk memahami ekonomi yang kompleks, dan lain sebagainya. Pada faktanya masih terdapat keragaman saat menjelaskan mengenai apa itu manusia, bagaimana dunia terbentuk, yang kucemaskan, kini nyaris punah. Tak ada alternatif memadai yang ditawarkan, selain sistem keyakian agama yang telah berusia berabad-abad dan menjadi seringkali berbenturan dengan penerus-penerus dalam generasi barunya. Apakah sudut pandang ilmiah akan dunia ini hal yang baik atau buruk? Aku tidak menyukai sudut pandang Kristen. Aku tidak menyukai sikap mekanis dari pengetahuan ilmiah, dan jelas tak ada etika atau moral yang koheren untuk menyetujui atau tak menyetujui hal tersebut, dengan pengecualian bahwa pemikiran yang dianggap terbelakanglah yang akan menentang inti “kemajuan” yang sebelumnya selalu menempatkan diri sebagai sesuatu yang netral. Apa yang dimiliki oleh pengetahuan ilmiah adalah keyakinan arogannya akan kemampuan superiornya dalam menyediakan berbagai penjelasan akan kenyataan, ia juga menjadi otoritas final, kupikir dalam soalan tersebutlah pengetahuan ilmiah harus dipertanyakan. Tetapi aku masih bingung dalam beberapa soalan, aku merasa harus mengambil dan memilih elemen-elemen mana dari sekian banyak sistem keyakinan yang kutemui, yang dapat diadaptasikan dalam sistem keyakinanku sendiri.
Secara konstan kita menghadapi masalah saat menjelaskan argumen rasional yang menentang peradaban. Tetapi apa yang kita dapatkan dari data arkeologis atau kembali berelasi dengan keliaran di setiap tingkat pola hidup kita sebagai sesuatu yang melampaui dikotomi rasional-irasional. Mereka yang mendapatkan keuntungan dari peradaban ini juga mendapatkan keuntungan dari kita yang selalu bermain dalam konteks yang mereka terapkan. Jadi tampak bahwa ada poin-poin dari argumen rasional yang memang tak dapat menjelaskannya. Apakah anda merasa bahwa ada batasan-batasan dari ilmu pengetahuan ataupun metoda? Atau apakah arkeologi, sebagai sebuah pengetahuan ilmiah, memiliki batasan atas ketergantungannya?
Aku menangkap poinmu soal rasionalitas. Anggap seluruh bukti tentang kehancuran lingkungan yang meluas adalah sebuah hasil dari proyek bernama peradaban. Para ilmuwan dapat memperlihatkan fakta untuk membuktikan bahwa pada dasarnya kita ada dalam sebuah era penghancuran diri seisi planet. Mendeskripsikan efek-efek pemanasan global, polusi udara, penghancuran habitat, pencemaran limbah nuklir, over-populasi, dan lain sebagainya, telah menawarkan landasan rasional untuk kemudian mengajukan argumen tentang perlunya perubahan praktik kultural yang memproduksi efek-efek tersebut. Tetapi selain daripada sekedar menyarankan, kita juga harus memikirkan kembali proyek peradaban ini tentang dampaknya terhadap relasi kita dengan dunia alamiah untuk kemudian membuat perubahan-perubahan yang fundamental terhadap isu-isu fundamental tersebut. Sementara biasanya kita masih terus terjebak dalam harapan yang keliru bahwa lebih banyak lagi pengetahuan ilmiah dan teknologi yang diharapkan akan mampu membetulkan apa yang diciptakan oleh pengetahuan ilmiah dan teknologi. Hal ini menggambarkan batasan-batasan dan arogansi paradigma ilmiah. Bahwa walaupun jelas terdapat argumen-argumen rasional yang menjelaskan bahwa peradaban ini busuk, dalam paradigma tersebut terdapat keyakinan bahwa dalam peradaban ini jugalah terdapat obatnya. Apakah hal seperti ini termasuk rasional ataukah irasional? Apakah sebuah ide tersebut rasional atau tidak tampaknya jauh lebih terkait dengan kekuasaan daripada konsistensi logis dari argumen yang ditawarkan untuk mendukung satu atau lain posisi. Bergerak di bawah sistem oligarki seperti ini kita membutuhkan sebuah pragmatis, strategi Machiavellian. Mereka yang berada di puncak kekuasaan akan mempromosikan pengetahuan ilmiah untuk melayani tujuan-tujuan mereka dan menyerang pengetahuan ilmiah yang merontokkan kekuasaan mereka. Dengan melihat dari sudut pandang ini kita akan mampu melihat bagaimana sesungguhnya aktualitas pengetahuan ilmiah berada di tangan mereka yang berkuasa. Perlawanan dipaksa untuk menyerang balik di semua front perjuangan. Aku melihat kerja-kerjaku berada dalam salah satu ranah perjuangan ini. Engkau benar saat berkata bahwa kita bermain di bawah aturan mereka, seperti juga yang ditunjukkan oleh John Zerzan, sesegera penggunaan bahasa menjadi metoda dominan dari relasi sosial kita kita telah membuka jalan menuju dunia simbolik, yang jelas berlawanan dengan otentisitas dan asosiasi.
Aku yakin bahwa terdapat sebuah pertempuran yang konstan terjadi dalam pikiran dan tubuh kita antara rasionalitas, yang secara konstan mengintelektualisasikan eksistensi yang hadir dalam alam bahasa, dengan pengalaman nyata, otentik dan sensual dari sesama dan dunia di sekeliling kita. Aku tahu bahwa hal ini juga terjadi dalam diriku, dan aku juga paham pada frustrasi yang engkau rasakan, yang seringkali berakhir dengan sikap bahwa yang terpenting adalah melakukan aksi dan baru setelahnyalah pertanyaan-pertanyaan diajukan. Aku tahu bahwa isnpirasiku untuk beraksi hadir lebih banyak dari keberanianku daripada pikiranku, aku berusaha untuk membuat diriku yakin akan diriku sepenuhnya, secara lengkap. Dalam momen-momen sinis aku cemas bahwa hasil-hasil kerjaku, tulisan-tulisanku akan menjadi tak lebih dari sekedar bla bla bla. Bahwa walaupun memiliki pengetahuan akan sejarah peradaban ini, harga dan konsekuensi yang harus dibayar, menawarkan argumen-argumen tak terbantah atasnya, menghasilkan bukti-bukti arkeologis untuk mendukung kesimpulanku, itu semua hanyalah ucapan dan berpikir apakah kata-kata memiliki kekuatan untuk mengubah sesuatu? Seperti semua seniman dan penulis, aku bayangkan, aku berjuang dengan berusaha untuk menemukan cara terbaik untuk mengatakan sesuatu, tanpa berkeinginan untuk menghasilkan sebuah ideologi atau sesuatu yang terdengar dogmatis. Tentu saja, kuasa rasional, argumen-argumen rasional yang melawan peradaban sangat terbatas, pengetahuan itu sendiri jelas tidak cukup untuk menghasilkan sebuah dampak yang menggairahkan, yaitu penghancuran peradaban, atau apapun yang dapat terjadi saat ini. Dibutuhkan sesuatu yang lebih daripada sekedar kata-kata, dibutuhkan aksi atau apapun yang dapat menginspirasi orang-orang untuk beraksi dan memiliki alasan logis dan rasional di balik aksinya. Aku tak keberatan saat dikatakan bahwa hasratku untuk melihat peradaban ini runtuh sebagai sesuatu yang irasional, tetapi aspek-aspek rasional dari motifku merepresentasikan komitmenku.
Penelitianku dengan arkeologi memang berupa ketergantungan, sebanyak pemahaman bahwa proses yang sedang berlangsung sekarang untuk mendapatkan makanan bagi pikiran kita adalah juga sebuah ketergantungan yang sama pada sistem ini. Sebagaimana yang pernah kukatakan, aku tidak melihat arkeologi sebagai sebuah upaya yang secara eksklusif bersifat ilmiah. Aku menemukan aspek-aspek politis atau bahkan puitis dalam proyek-proyek pemaparan kisah tentang kemanusiaan. Aku juga merasa perlu untuk selalu melibatkan kolega-kolegaku dalam perdebatan tentang dampak atas kisah-kisah yang kami produksi; apakah mereka mendukung status-quo, atau ide-ide bahwa peradaban ini adalah sesuatu yang bagus? Atau apakah pengetahuan yang kami produksi dapat menawarkan jalan yang paling mungkin untuk menyerang peradaban? Aku terus bekerja karena aku berusaha menemukan teori arkeologis dan data-data yang akan menyediakan sebuah landasan di mana kita akan dapat mengonstruksi sebuah kritik yang mendasar yang selanjutnya dapat menjadi sebuah landasan untuk beraksi.
Tak dapat disangkal lagi bahwa aktivitas arkeologi adalah penggalian masa lalu manusia. Sebuah kontroversi besar juga muncul seperti yang sering terjadi di mana para arkeolog menggali situs-situs makam dan memporak-porandakan situs-situs yang dianggap keramat oleh penduduk lokal. Di mana batas yang harus digariskan dalam soalan ini?
Aku akan selalu berusaha berpihak pada masyarakat adat dalam memilih soal apa yang harus dilakukan terhadap situs-situs arkeologis, sebagai sebuah hal yang prinsipil. Tapi jujur, hal tersebut bukanlah sebuah sentimen yang dipegang para arkeolog secara keseluruhan, sebagaimana kita semua tahu bahwa apabila sebuah jalan atau bangunan penjara baru akan dibangun, tak ada yang dapat menghentikan penggalian yang dilakukan para arkeolog demi terlaksananya pembangunan tersebut.
Apa pengetahuan yang bisa didapatkan dari artefak? Bagaimana hal tersebut dapat membantu kita?
Langdon Winner, seorang filsuf yang menulis sesuatu tentang teknologi, berkata, “Semua artefak memiliki politik.” Kupikir poin ini tak cukup ditekankan. Memilih untuk menggunakan sebuah bentuk khusus dari teknologi adalah berarti juga memilih sebuah bentuk khusus dari kehidupan sosial politik. Ambil contoh adaptasi teknologis atas domestikasi. Hal tersebut sepenuhnya mengubah masyarakat yang “memilihnya”. Bukannya orang-orang mendapatkan kebutuhan hariannya seperti makanan, pakaian dan rumah secara langsung berinteraksi dengan lingkungan alami seperti yang dilakukan dalam masyarakat pemburu-peramu, kini mendapatkan kebutuhan-kebutuhan tersebut dimediasi oleh relasi sosial, yang membuat seseorang mendapat kuasa atas hidup seseorang lainnya. Asal muasal ketimpangan sosial dan asal muasal domestikasi sepenuhnya saling berkaitan. Lihat bagaimana hal-hal berubah semenjak ditemukannya roda dan alat cetak. Di waktu belakangan ini, televisi, otomobil, komputer—artefak-artefak tersebut mengubah masyarakat sepenuhnya. Hal-hal tersebut kini yang duduk di atas pelana dan menunggangi kita. Pengetahuan tentang bagaimana kultur material memengaruhi masyarakat membutuhkan layar pemahaman lain. artefak-artefak merepresentasikan keberlangsungan fisikal dalam proses di mana kultur berubah.
Aku ingat saat pertama kali membaca Masyarakat Industrial dan Masa Depannya. Kupikir tulisan tersebut brilian dalam isu tentang seberapa banyak teknologi memengaruhi masyarakat. Ada banyak lainnya yang menulis soal hal ini, Zerzan tentu saja, juga Mumford dan filsuf Mazhab Frankfurt seperti Adorno, Horkheimer dan Marcuse. Para arkeolog sesungguhnya mawas soal perubahan-perubahan teknologis. Dalam catatan-catatan arkeologis, tertulis bagaimana relasi masyarakat berubah dan juga relasinya dengan dunia alamiah. Mereka menulis tentang kehidupan sosial dari benda-benda, bagaimana artefak-artefak itu sendiri yang membuat arti sosialnya sendiri. Anarkisme dominan, sangat kurang pemahamannya akan bagaimana peran kebudayaan material dalam menentukan relasi sosial sebagai sebuah degradasi. Sejalan dengan Zerzan, kita melihat betapa para anarkis sering berargumen melawan perspektif AP dan malahan mendukung artefak-artefak dari peradaban ini—menekankan bahwa kita semua bisa mendapatkan listrik, otomobil dan komputer sekaligus membangun masyarakat anarkis. Hal ini tidak benar, kedua hal tersebut tak dapat beriringan. Seluruh artefak yang mengelilingi kita dalam peradaban hari ini membutuhkan divisi kerja dan kontrol, yang merupakan antitesa dari anarki, dibutuhkan juga kontrol atas sebuah jaringan yang kompleks dari relasi sosial untuk memroduksi, mendistribusikan dan merawat semuanya. Seseorang harus bekerja di ban berjalan, menjual sesuatu pada orang lain, mengemudikan truk, membersihkan sampahnya, dan juga, mengatur semuanya. Sebuah masyarakat anarkis yang bebas jelas tak mungkin mampu direalisasikan dalam sebuah masyarakat industrial. Hal ini jelas bagiku. Selama kita masih terjebak dalam ide-ide yang keliru di mana kita membutuhkan semua artefak-artefak tersebut, kita akan akan terus menjalani jalur kehancuran peradaban yang merusak sosial dan lingkungan. Para arkeolog telah mendemonstrasikan betapa kita tak membutuhkan peradaban, tapi mengapa orang-orang masih juga menjalani hal ini? Bagiku ini adalah sebuah pertanyaan penting yang harus terus dieksplorasi. Bagaimana orang-orang begitu teryakinkan bahwa kita membutuhkan ini semua untuk bertahan hidup, menjadi bahagia, menjalani hidup yang penuh arti saat apa yang jelas berlawanan dengan itu semua adalah sesuatu yang memang benar-benar nyata?
Harapanku adalah bahwa kerja-kerja para arkeolog, pengetahuan kami tentang bagaimana seluruh artefak memiliki politik di baliknya, bagaimana teknologi mempengaruhi masyarakat, akan mendekonstruksi aspek-aspek fundamental dari apa yang diberikan oleh peradaban selama ini.
Komentar penutup ?
Apabila penelitian arkeologiku adalah sebuah upaya untuk memahami realitas yang lantas diharapkan akan mampu membuat sebuah dampak bagi perubahan dunia di mana aku hidup, maka sejauh ini hasilnya masih cukup mengecewakan. Tetapi kurasa, para aktivis juga merasa bahwa usaha mereka belum cukup, selalu mencari cara yang lebih efektif untuk berjuang. Apa aksi yang dapat kulakukan untuk membuat sebuah perubahan? Satu hal yang selalu dilancarkan oleh para oponen antagonistikku adalah kalimat klise, “Apabila engkau benar-benar yakin bahwa manusia harus hidup dengan cara demikian, maka mengapa tidak dirimu kini?” Jawabanku tetap selalu sama, bahwa aku ingin, aku akan lakukan, suatu saat nanti. Tetapi saat ini aku harus berada di sini untuk terus berjuang. Aku merasa bahwa pelarian diriku sendiri dari peradaban hanyalah sebuah tindakan tak bertanggung jawab—lagipula bukankah peradaban telah melebarkan sayapnya di mana-mana hingga ke ujung dunia yang paling tak terjamah? Maka aku masih menulis, meletupkan kekacauan, mengajar, belajar, berdiskusi mengenai filsafat dan politik dengan kawan-kawan dan juga musuhku. Aku melempari kue pie pada figur-figur otoritas dan berusaha mendukung kawan-kawanku. Aku menunggu dan mencari tanda-tanda di mana peradaban meruntuh dan berharap, dalam beberapa cara sederhana, aku dapat memberikan sedikit dorongan.
Sumber: Jurnal AmorFati #3