Marx dan Antropologi: Catatan Awal
Karl Marx (1818-1883) bukan antropolog. Dia juga tidak menganggap dirinya demikian. Tapi, bahkan antropolog konservatif yang melihat Marxisme hanya seonggok ideologi bangkrut di pojokan kumuh dunia kapitalis, mau tidak mau harus memperhatikan berbagai unsur gagasannya tentang manusia, masyarakat, dan kebudayaan. Paling tidak untuk mengajukan kritik atas teori materialistiknya tentang tatanan masyarakat dan kemestian perubahan tatanan ini yang revolusioner dan tak terelakkan.
Karl Marx, sekali lagi, bukan antropolog. Begitu pula Frederick Engels (1820-1895). Lenin lebih mengetahui keduanya sebagai pembaca dan pengambil hikmah dari trinitas suci sumber pemikiran Eropa masa itu yakni karya sosialis radikal Prancis, filsafat spekulatif Jerman, dan ekonomi-politik Inggris daripada karya-karya antropologi. Karya-karya utama Marx juga sedikit membahas persoalan klasik antropologi seperti kekerabatan dan masyarakat non-Eropa. Semua energinya seperti tersedot oleh perhatian terhadap tatanan masyarakat kotemporernya, yaitu borjuis Eropa Barat. Meski demikian, sulit juga diingkari bahwa Marx dan Engels telah menambah pengatahuannya tentang masyarakat non-kapitalis Eropa Barat sejalan dengan perkembangan pemikiran keduanya yang semakin ‘ilmiah’ sifatnya. Dari hasil surveinya atas berbagai hubungan antara antropologi dan Marxisme, Maurice Bloch menemukan bahwa pemanfaatan antropologi (dan sejarah) oleh Marx dan Engels bisa dibagi ke dalam dua cara, yaitu yang bersifat historis dan yang bersifat retoris. Marx dan Engels tertarik pada kebudayaan primitif karena mereka ingin membangun sebuah teori umum dan teori tentang masyarakat dalam upaya menjelaskan sebab-musabab kemunculan kapitalisme. Untuk itu Marx dan Engels mau-tidak-mau harus membaca banyak karya dari luar trinitas suci sumber pemikiran tradisional masa itu dan membuka hubungan dengan etnologi, sejarah kuno, dan arkeologi (Bloch 1983). Cara kedua pemanfaatan sumber-sumber antropologis oleh Marx dan Engels bersifat retoris dalam arti mereka membutuhkan contoh dan kasus untuk menunjukkan bahwa lembaga-lembaga dalam masyarakat kapitalisme secara historis adalah khas dan, oleh karena itu, bisa berubah. Pamanfaatan retoris ini tiada lain dalam upaya menunjukkan kesejarahan lembaga-lembaga dan untuk itu mereka mengajukan berbagai kasus tentang lembaga-lembaga yang berbeda dengan kapitalisme. Untuk itu, tentu saja mereka harus mencarinya dari ilmu yang mengumpulkan banyak bahan tentang masyarakat non-Eropa atau tentang lembaga-lembaga masyarakat Eropa pra-kapitalis (ibid: 10-1).
Misal termasyur untuk tujuan pertama tentu bisa disebut Ancient Society karya Lewis Henry Morgan (1818-1881), ahli antropologi klasik Amerika, yang diterbitkan pada 1877 dan dibaca Marx dan Engels pada tahun 1880. Karya ini mereka anggap sebagai mata air di tengah padang tandus dukungan ‘ilmiah’ atas materialisme historis. Marx membaca dan sempat membuat semacam komentar atasnya yang diberi judul Conspectus on Lewis Morgan’s Ancient Society. Di dalam karyanya, Morgan memilah-milah rangkaian sejarah masyarakat manusia ke dalam tahap-tahap yang bertumpu pada landasan material seperti penggunaan api, busur dan panah, perkakas keramik, hewan jinakan, tulisan, dan sebagainya. Baik Marx maupun Engels terperangah betapa Morgan dengan caranya sendiri melakukan penyelidikan di dalam terang konsepsi materialisme atas sejarah. Engels menyetarakan temuan Morgan dengan temuan Marx dalam Das Kapital (Engels, 1981/1884: 2). Dalam hasil penelitian selama empat puluh tahun lebih tersebut, Morgan menyoroti kenyataan bahwa lembaga-lembaga pokok yang menjadi buhul masyarakat borjuis seperti keluarga, kepemilikan pribadi, dan negara, terbukti tidak pernah ada dalam kehidupan masyarakat prasejarah. Lembaga-lembaga tersebut berkembang seiring dengan perubahan-perubahan dalam pola produksi material masyarakat dalam kerangka evolusioner. Data Morgan menegaskan kembali pemikiran Marx bahwa lembaga sosial bukanlah sesuatu yang baku dan abadi, tapi dihasilkan dari keadaan sosial-ekonomi tertentu. Selain itu, dalam kerangka teoritis Morgan, sebagian besar sejarah manusia bisa dipahami dengan lebih baik lewat analisis atas kondisi materialnya. Teori evolusi Morgan seolah menunjukkan bahwa segala hal—perang, kelas sosial, kemiskinan, parlemen, agama, atau seni—dapat dijelaskan dengan menelaah landasan teknologi, ekonomi, dan lingkungan masyarakat tersebut, dan hubungan sosial yang didirikan orang dalam kaitannya dengan faktor-faktor ekonomis dan lingkungan ini.
Agak jauh sebelum penemuan karya Morgan, Marx dan Engel sudah melihat betapa pentingnya analisis ulang terhadap sejarah dalam membangun pemahaman yang baru terhadap masyarakat modern. Tujuan ini sudah tertanam sejak perseteruan pertama Marx dengan Hegel dan rekan-rekan Hegelian Mudanya. Dalam filsafat Hegel, gagasan tentang negara ditempatkan sebagai sumber utama dalam gerak sejarah dan sumber sejati keadilan. Hegelian Muda menerima kedudukan teori negara Hegel sambil merombak pemikiran ini dengan mengajukan bahwa hanya Negara yang telah dirombak dan dibersihkan dari anasir-anasir buruknya saja yang bisa menjadi sumber sejati keadilan sosial. Dari titik berhenti kiritk rekan-rekan Hegelian Mudanya inilah Marx meradikalkan kritiknya terhadap Hegel. Menurutnya, Negara itu sendiri sekadar aspek dari suatu bentuk masyarakat tertentu atau, dengan kata lain, hanya sebuah organisasi yang menata hubungan orang-orang dalam kehidupan kolektif pada tahap tertentu dalam sejarah manusia. Dalam sudut pandang seperti ini, perombakan politik atas Negara seperti yang dikehendaki rekan-rekan Hegelian Muda tidak begitu tepat karena apa yang harus dirombak bukanlah Negara tapi tatanan kompleks yang darinya Negara beserta perangkat hukumnya menyembul sebagai epifenomena. Dengan teori ini Marx membatas ulang tujuan kaum revolusioner. Menurutnya, tujuan revolusi bukan pada perombakan hukum-hukum dan lembaga-lembaga Negara. Perombakan ini hanya akan sia-sia karena Negara bukanlah penyebab ketidakadilan sistem sosial, tapi sekadar dampak. Daripada menyasar Negara, Marx menekankan pentingnya menyasar ‘masyarakat’ sebagai organisasi produksi dan distribusi untuk mencari sumber ketidakadilan sosial. Masyarakat tidak sedari awal seperti sekarang keadaannya. Masyarakat mengalami perubahan-perubahan sepanjang keberadaannya.
Perubahan utama yang menjadikan perubahan-perubahan lain mengikuti ada di dasar paling bawah masyarakat yaitu ragam atau cara produksi dan distribusinya. Sekali lagi, untuk mendukung teorinya ini, Marx mengajukan berbagai data tentang masyarakat-masyarakat pra-kapitalis, baik Eropa maupun non-Eropa. Darimana lagi selain dari bahan-bahan antropologi dan sejarah data ini diperoleh?
Dalam karya-karya awal seperti Ideologi Jerman (ditulis 1844-6) perhatian lebih banyak diberikan kepada masyarakat feodal; sebuah tipe masyarakat dalam sejarah masyarakat Eropa Barat yang ada tepat sebelum kapitalisme muncul. Meski masyarakat pra-feodal juga dibahas, tapi ada kesan mereka masih meraba-raba dengan susah payah tatanan masyarakat kesukuan yang darinya masyarakat negara model Yunani-Romawi dan feodalisme muncul. Memang sebelum 1853, Marx dan Engels tidak menunjukkan ketertarikan secara khusus terhadap masyarakat dan kebudayaan non-Barat (Gouldner 1980: 325). Hingga tahun itu, mereka sepakat buta dengan pandangan Orientalisme dan para filsuf spekulatif lainnya yang melihat masyarakat non-Eropa sebagai fosil masa lalu yang ajeg dan ditakdirkan kalah terhadap gerak dinamis Eropa. Baru sekitar sepuluh tahun setelah terbitnya Manifesto Komunis, sekitar 1858, cakrawala pengetahuan sejarah bangsa-bangsa mereka sudah jauh melebar. Sebuah naskah panjang yang konon merupakan persiapan awal Kapital yang ditulis sekitar 1857-1858, menunjukkan hal ini. Naskah ini baru diterbitkan jauh kemudian setelah Marx wafat dan oleh penerbitnya diberi judul Grundrisse atau Garis-garis Besar (MSW: 345-387). Dalam karya ini Marx memperlihatkan pengetahuannya yang cukup luas tentang masyarakat kesukuan, tatanan masyarakat Eropa Kuno, dan masyarakat Asiatik. Dua bagian dalam Grundrisse ini kemudian diterbitkan secara terpisah dan diberi judul Pre-Capitalist Economic Formations pada tahun 1964. Dari Grundrisse kita bisa melihat bahwa bahasan terhadap lembaga-lembaga pra-kapitalis semakin banyak dalam karya-karya Marx dan Engels. Dari mana data tentang masyarakat kesukuan atau masyarakat Asiatik itu diperoleh? Kajian Lawrence Krader menunjukkan bahwa Marx membaca dan mengulas karya-karya antropolog klasik seperti Lewis H. Morgan, Phear, Sir Henry Maine, dan John Lubbock. Menurut Maurice Bloch (1983: 3-4), sejak 1880 atau tiga tahun terakhir dalam hidup Marx, perhatian dua sejoli Marx dan Engels didominasi oleh kajian-kajian yang menjadi perhatian antropologi.
Maurice Godelier, seorang antropolog Marxis dari Perancis, dalam buku Perspectives in Marxist Anthropology (1981), menunjukkan bahwa seiring perjalanan waktu, pemahaman Marx tentang masyarakat prakapitalis, terutama masyarakat-masyarakat di Asia dan Afrika, berubah sejalan dengan kian bertambahnya sumber bacaan Marx tentang masyarakat tersebut. Kesederhanaan pemahaman Marx dan Engels atas masyarakat prakapitalis dalam Ideologi Jerman (1846), misalnya, berakhir pada penyederhanaan skema evolusi masyarakat yang menurut keduanya mengikuti empat tahap: 1) komuniti kesukuan yang dikaitkan dengan bentuk-bentuk ekonomi primitif (seperti berburu, meramu, penggembalaan, dan awal pertanian sederhana), 2) masyarakat negara model Yunani-Romawi, 3) masyarakat feodal, dan 4) masyarakat borjuis (The German Ideology, MSW: 161-164). Menurut amatan Godelier, ketika pada tahun 1858 Marx menemukan rahasia teori nilai-lebih dan teori penciptaan-laba, desakan untuk memahami sejarah kemunculan kapitalisme memaksa Marx memperbaiki skema evolusi historisnya. Dalam skema baru ini, bentuk-bentuk kepemilikan lahan komunal khas Asiatik; organisasi kerja dan eksploitasinya oleh kekuasaan depotik, muncul. Kemudian, karya-karya etnologi dan sejarah masyarakat kuno dari Maurer dan Kovalevsky menghantar konsep baru ‘komune pedesaan Rusia’ dan ragam produksi Jermanik Kuno dalam pengetahuan Marx tentang komuniti-komuniti Asiatik. Akhirnya, perjumpaan dengan karya Morgan Ancient Society mengubah kembali skema tentang masyarakat primitif sekali lagi. Pokoknya, dalam amatan Godelier, Marx dan Engels juga pembaca karya-karya etnologi klasik di luar kategori trinitas suci pengetahuan Eropa di atas di masa-masa matang mereka. Selain itu, Godelier juga mengingatkan bahwa bila hendak mempelajari pemikiran Marx dan Engels, kita mesti sadar bahwa pengetahuan keduanya selalu berubah seiring dengan bertambahnya pengetahuan. Pemahaman atas masyarakat prakapitalis dan skema-skema evolusinya bukanlah dogma yang benar sepanjang masa dan berlaku di semua tempat di muka bumi.
Kesimpulan serupa diajukan oleh Maurice Bloch (1983: 95-6). Menurut Bloch, dalam analisisnya terhadap evolusi lembaga kepemilikan, evolusi bentuk-bentuk kerja, dan pertumbuhan masyarakat negara, Marx dan Engels selalu merombak gambarannya ketika mereka memperoleh informasi baru. Informasi baru ini selalu saja tentang masyarakat non-Eropa barat yang tidak begitu mereka ketahui betul. Contohnya, ketika Marx mempelajari Tiongkok, India, dan Peru, dia memperkenalkan konsep ragam produksi Asiatik dan memasukkannya sebagai satu tahap dalam evolusi ragam produksi.
Dalam pidato pemakaman Marx, Engels menyatakan bahwa “… sebagaimana Darwin menemukan hukum evolusi dalam alam organik, begitu pula Marx menemukan hukum evolusi dalam sejarah manusia.” (Engels, MESW vol.2: 167) Pernyataan yang mirip sesumbar ini tentu tidak akan disesali Marx karena memang Marx begitu kagum terhadap Darwin dan Kapital-nya konon dipersembahkan pada mpu evolusionisme ini, namun ditolak. Marx, seperti para ahli antropologi sejaman, melihat Darwin, di satu sisi, sebagai seorang pengembang penjelasan materialis terhadap evolusi manusia. Dalam kaitan dengan upayanya sendiri, Marx menjadikan gagasan Darwin dalam biologi sebagai penuntun untuk melihat evolusi masyarakat manusia sebagai penjelas proses perubahan dalam produksi dan reproduksi masyarakat. Teori evolusi ini bisa menjelaskan mekanisme apa yang menghasilkan gagasan, prinsip-prinsip, dan proses-proses yang menata masyarakat dalam babak-babak sejarahnya hingga mencapai tatanan kapitalisme. Tapi di sisi lain, tidak seperti semua ahli antropologi di masanya, Marx tidak melihat bahwa evolusi masyarakat sebagai kelanjutan dari evolusi biologis. Proses-proses historis masyarakat tidak bisa disamakan dengan proses seleksi alam. Sepanjang karirnya Marx berulang kali menjelaskan bahwa betapa berbedanya manusia dari binatang lainnya sehingga sejarah manusia merupakan bentuk berbeda dari sejarah alam (Bloch 1983: 6).
Memang benar bahwa sebagai sebuah disiplin ilmu yang dibangun di atas pernak-pernik laporan tentang berbagai bangsa ‘primitif’ yang dinaungi filsafat Pencerahan dalam gegap-gempita Jaman Kapital (the Age of Capital), antropologi sangat dekat kaitannya dengan kajian tentang evolusi yang diwariskan Charles Darwin bagi Eropa (Hobsbawm 1979). Antropologi di tangan guru-guru pertama seperti Tylor, Morgan, dan Spencer pun bergulat dengan evolusi masyarakat dan evolusi kebudayaan manusia sebagaimana Darwin bergulat dengan evolusi organik mahluk hidup. Marxisme dan antropologi pun tampaknya berhubungan akrab layaknya kawan sejalan menuju tujuan bersama. Namun, sebenarnya Marx berbeda dengan tokoh-tokoh antropologi klasik tersebut. Selain karena tidak percaya hukum-hukum dalam evolusi biologis sama dengan yang berlaku pada evolusi sosial, Marx juga punya tujuan politis sebagai pijakan aktivitas berteorinya. Marx selalu kritis terhadap semua temuan antropologi yang dianggapnya membawa serta ‘ideologi’ borjuis dalam analisisnya terhadap data antropologis. Sebagai contoh, pada tahun 1861 sebuah buku karya Sir Henry Maine, seorang ahli hukum dan leluhur antropologi, berjudul Ancient Law, terbit dan dibaca Marx dan Engels. Dalam karya tersebut Maine menjelaskan bahwa perkembangan hukum dalam masyarakat dari primitif ke modern merupakan perkembangan dari hubungan status ke hubungan kontraktual. Dalam masyarakat pra-modern, orang diatur oleh kategori jender, usia, dan hubungan kekerabatan mereka (hubungan-status); sedangkan dalam masyarakat modern orang diatur oleh pengaturan kontraktual yang tidak berkenaan dengan status tersebut di atas, tapi hanya dengan hal-hal yang menghantar individu-individu bebas hidup bersama (hubungan-kotrak). Marx melihat niat buruk di balik konsepsi yang mengagungkan hubungan kontraktual sebagai sebuah pembenaran atas lembaga-lembaga hukum kapitalisme. Selain itu, pandangan Maine tentang keutamaan keluarga monogami yang melampaui alasan historis dianggap Marx sebagai a-historis dan anti perubahan (Bloch, 1983: 7).
Begitu berpengaruhnya bahan-bahan antropologis ternyata tidak hanya menimpa Marx dan Engels. Para pengikut pertama seperti Paul Lafargue (1842-1911) juga terkena pengaruhnya. Lafargue menikahi Laura, putri Marx. Mungkin karena kedekatan inilah, maka setelah wafatnya Marx pada tahun 1883, dia termasuk salah seorang terdekat yang menemani masa tua Engels. Menurut Bloch, karya-karya tulis Lafargue mencerminkan kecenderungan di kalangan Marxis segera setelah wafatnya Marx, yaitu kian membesarnya pengaruh Darwinisme Sosial dan merasuknya materialisme vulgar. Dalam bukunya Le Déterminisme Économique (1909), Lafargue menyatakan secara terang-terangan alasan bahwa mengapa orang-orang berbeda adalah hanya karena perbedaan dalam lingkungan alam mereka dan interaksi antara lingkungan alam ini dengan tahap teknologi yang dicapai untuk berhubungan dengannya. Menurut Bloch, pemikiran Lafargue tidak menempatkan sejarah sebagai peristiwa kemanusiaan. Sejarah manusia dianggap merupakan kelanjutan langsung evolusi biologis. Persis seperti pandangan kaum Darwinis sosial. Filsafat pengetahuannya begitu sederhana. Ia menganut materialisme kasar yang menempatkan pengertian indrawi sebagai kekuatan penentu. Pandangan ini diambilnya dari materialisme abad ke-18 Perancis; bukan dari Marx.
Lebih lanjut, teori Lafargue tentang asal-usul moralitas dan agama juga betul-betul sekadar menyalin pernyataan-pernyataan E.B Tylor, Bapak Antropologi, yang konon sangat berpengaruh terhadap kaum Marxis pada babak sejarah saat itu. Teori Tylor tentang evolusi agama menyatakan bahwa gagasan-gagasan ketuhanan merupakn hasil kesadaran yang keliru tentang realitas mimpi. Tafsiran atas mimpi sebagai keluarnya roh dari tubuh menghasilkan gagasan tentang jiwa dan raga sebagai dua hal yang berbeda. Gagasan ini kemudian menjadi dasar kepercayaan animisme yang percaya pada adanya jiwa-jiwa di alam. Animisme ini kemudian berkembang menjadi kepercayaan kepada tuhan-tuhan hingga akhirnya muncul kepercayaan teradap tuhan yang esa. Menurut Bloch, peniruan teori ini jelas mengabaikan pemahaman Marx atas perubahan-perubahan kehidupan sosial. Teori agama Tylor yang bersifat ‘psikologis’ dan mengabaikan kenyataan bahwa manusia tidak pernah hidup terkungkung sendirian dalam kesadarannya sendiri, jelas-jelas berseberangan dengan pemikiran Marx yang menempatkan semua gagasan dan lembaga sosial dalam konteks sosial yang dialektis sifatnya.
Lafargue melanjutkan kerja Engels seperti dalam Asal-usul Keluarga yang sangat dipengaruhi Morgan. Hanya saja, Lafargue merupakan pelanjut yang naif. Misalnya, teori Lafargue tentang keunggulan perempuan dalam masyarakat primitif bertumpu pada spekulasi tentang perbedaan ukuran otak laki-laki dan perempuan. Spekulasi ini sendiri masih sangat diragukan. Akhirnya, Bloch menyimpulkan bahwa pemikiran Lafargue merupakan pantulan yang paling kasar dari suasana intelektual kaum Marxis hingga tahun 1917; suasana yang kemudian begitu mempengaruhi Lenin dan perkembangan antropologi di Uni Soviet (Bloch 1983: 99-100).
Selain Lafargue, ‘murid-murid pertama’ lain yang akrab dengan bahan-bahan antropologi adalah Plekhanov dan Kautsky. Pemikir Marxis generasi pertama seperti Gregorii Plekhanov (1856-1918), yang diakui sebagai Bapak Marxisme Rusia misalnya, memenuhi karya teoritisnya yang menerapkan materialisme sejarah untuk kajian seni dengan daftar karya antropolog klasik beserta etnografi-etnografinya. Etnografi-etnografi ini tidak hanya memberinya informasi tentang kehidupan berbagai bangsa dari berbagai penjuru dunia di luar Eropa, tapi juga ilham-ilham teoritik dalam mempertegas kembali konsepsi materialis atas sejarah yang ditawarkan Marx dan Engels. Dalam kumpulan karyanya berjudul Seni dan Kehidupan Sosial (2006), Plekhanov lebih tampak sebagai seorang ahli antropologi budaya dengan kajian perbandingannya atas data etnografi yang mempertahankan anggapan-dasar bahwa manusia adalah mahluk sosial sehingga karya seni juga merupakan realitas sosial, daripada seorang filsuf belakang meja yang mengandaikan khayalan bahwa gagasan keindahan seorang seniman muncul seperti wahyu dari Tuhan bagi seorang nabi.
Ketika membahas masyarakat dan kebudayaan dalam Masalah-masalah Dasar Marxisme (2002), Plekhanov tampaknya begitu terpengaruh oleh antropologi E. B. Tylor, Ratzel, dan Morgan. Plekhanov menyusun argumennya tentang kekuatan penentu yang disandang lingkungan geografis dan kekuatan-kekuatan material dalam produksi terhadap segala perubahan dan perkembangan masyarakat dan kebudayaan pada umumnya dengan mengutip Ratzel. Misalnya ketika menjelaskan kemunculan lembaga perbudakan, Plekhanov mengikuti argumen Ratzel bahwa masyarakat suku Massai tidak mungkin mengembangkan perbudakan, sedangkan masyarakat suku Wakamba bisa. Hal ini karena adanya perbedaan ‘kemungkinan teknik’ yang mempengaruhi bisa atau tidak bisanya perbudakan berkembang dalam dua masyarakat tersebut. Karena perbudakan merupakan sebentuk hubungan produksi, maka perlu prasyarat material untuk pembentukannya. Orang Massai yang penggembala berpindah tidak membutuhkan hubungan perbudakan dalam ekonomi mereka. Sebaliknya orang Wakamba adalah masyarakat pertanian menetap yang bisa memanfaatkan tenaga budak dalam produksi surplus dan teknologi penyimpanan hasil produksi memungkinkan para tawanan perang dijadikan budak. Landasan perbedaan ini berada dalam geografi dan kependudukan (ibid: 52-3).
Jauh lebih berpengaruh daripada Lafargue adalah Karl Kautsky (1854-1938). Bila Lafargue menulis karyanya di Perancis yang pada masa itu Marxisme betul-betul menempati daerah pinggiran dalam kancah politik nasional, maka Kautsky menulis di Jerman tempat Marxisme menjadi kekuatan politik terkuat. Sebelum beralih kepada Marx, Kautsky merupakan pengagum Darwin dan Herbert Spencer. Tidak heran bila ada yang menyatakan bahwa Kautsky lebih tepat digolongkan sebagai Darwinis Sosial daripada materialis sejarah. Bila materialisme historisnya Marx menekankan dialektika dalam sejarah sehingga sebuah revolusi haruslah dilandasi kesadaran revolusioner yang terwujud sebagai hasil dialektis perjuangan kelas dan dialektika kesadaran dengan perubahan-perubahan kondisi material, maka dalam pemikiran Kautsky sejarah bergerak karena hukum-hukum objektif yang sudah terkandung dalam sejarah tu sendiri. Seperti Darwin yang berpandangan bahwa organisme-organisme berkembang dengan sendirinya ke arah bentuk yang lebih tinggi semata-mata karena faktor alamiah seperti mutasi dan seleksi alam, Kautsky juga berkeyakinan bahwa bentuk-bentuk tatanan ekonomi dan masyarakat berkembang, memuncak, hancur, dan digantikan oleh yang baru karena dinamika tatanan itu sendiri tanpa ada pengaruh pada kehendak dan perencanaan manusia (Magnis-Suseno 1999: 224).
Seperti halnya Engels, Kautsky banyak membahas persoalan antropologis. Seperti halnya Engels yang mengikuti Morgan, bagi Kautsky teknologi dan perkembangannya merupakan kekuatan penentu dalam sejarah manusia. Dalam artikel berjudul Persoalan Indian, Kautsky membahas mengapa bangsa Indian di Amerika terkalahkan oleh bangsa Eropa. Alasannya adalah karena mereka belum cukup mengembangkan teknologi. Belum berkembangnya teknologi Indian inilah yang kemudian menentukan kemampuan mereka dalam upaya bertahan hidup ketika komuniti-komuniti dengan teknologi yang sudah berkembang datang dari Eropa dan bermukim (Bloch 1983: 101). Teorinya tentang asal-usul agama serupa betul dengan yang dibahas Engels di masa tua dan Lafargue yang sekadar penyalinan dari karya-karya antropolog klasik seperti James Frazer atau E.B. Tylor.
Ternyata hubungan Marx, Engels, dan pemikir Marxis awal dengan antropologi tidak seremeh anggapan umum. Ada rentang masa ketika mereka menempatkan antropologi sebagai senjata penyerang dalam upayanya menumbangkan pemahaman orang-orang sejamannya tentang lembaga-lembaga sosial. Bahkan, teori-teori mereka tentang masyarakat dan kebudayaan boleh dikatakan begitu terpengaruh kharisma bahan-bahan antropologis sehingga tidak jarang menempatkannya sejajar dengan pemikiran Marx sendiri atau lebih. Namun, masa kemesraan antara Marxisme dan antropologi yang cukup panjang selama hidupnya Marx dan Engels disusul oleh masa pukulan keras yang mengubah wajah antropologi berikutnya. Ini terjadi saat pergantian abad, ketika antropologi modern terbentuk di permulaan abad ke-20. Para guru baru antropologi muncul membawa ajaran baru. Di Amerika, Franz Boaz mendidikkan relativisme budaya kepada puluhan antropolog sambil melecehkan gagasan-gagasan evolusi pendahulunya. Begitu pula Malinowski dan A.R. Radcliffe-Brown di Inggris Raya. Tanpa tedeng aling-aling, mereka menentang pendekatan, teori, dan karya L.H. Morgan, E.B. Tylor, dan evolusionis abad ke-19 lainnya. Penentangan ini diriuhi oleh cap ‘Victorian Kolot’ untuk para evolusionis tersebut. Serangan mematikan dihujam dalam-dalam hanya beberapa dasawarsa berselang memasuki abad ke-20. Evolusionisme yang menegaskan gagasan materialisme sejarah Marx dan memperlakukan antropologi sebagai ilmu pengetahuan mengenai asal-usul dan perkembangan masyarakat manusia, dihina-dina sebagai teori spekulatif yang berbahaya. Para antropolog Amerika Serikat didikan Boas sependapat bahwa “teori evolusi kebudayaan… teori yang paling tidak masuk akal, mandul, dan merusak dalam seluruh ilmu pengetahuan…” (Wertheim 2000: 4). Mereka kemudian menjadikan antropologi sibuk mengumpulkan, menggambarkan, dan menyusun daftar kebiasaan-kebiasaan yang beragam dari berbagai masyarakat tanpa upaya kajian perbandingan yang menghasilkan teori. Pokoknya, mereka menjadikan antropologi ahistoris dan anti-evolusi. Leslie White, ahli antropologi yang membangkitkan kembali evolusionisme di Amerika pada dasawarsa empat hingga lima puluhan menggambarkan “kaum deskripsionis” sejak Boas hingga jajaran antropolog Amerika yang bernaung di bawah bayang-bayangnya sebagai antropolog yang “di samping anti-materialisme, kaum deskripsionis itu anti-intelektualitas dan anti-filsafat—berkenaan dengan teorisasi mereka yang buruk—dan anti-evolusionis. Misi mereka hanya menunjukkan bahwa tak ada hukum atau signifikansi dalam etnologi, tiada sebab atau alasan pada fenomena kultural, sehingga peradaban merupakan—menurut R.H Lowie, pendukung terkemuka dari filsafat ini—hanyalah “campuran yang berantakan” maupun “adonan tak keruan” (dikutip Reed 2004: xvi). Dalam sejarah antropologi, kecenderungan ‘teoritik’ ini dikenal dengan nama partikularisme historis. Kecenderungan baru ini menguasai dunia akademik Amerika berpuluh tahun lamanya. Ada ketidakberseleraan umum untuk mengakui nilai dan arti penting Marx atau teori-teori Marxis khususnya dan teori-teori evolusioner pada umumnya untuk mengembangkan disiplin antropologi. Sepertinya ada semacam kesepakatan bisu di antara para antropolog Amerika pasca-Perang Dunia II bahwa Marx dan Engels serta evolusionis tidak relevan dalam sejarah teori antropologi. Serangan-serangan terhadap evolusionisme klasik merupakan jalan melingkar menyerang teori-teori Marx dan Engels.
Di Inggris Raya keadaannya tidak jauh berbeda. Dalam amatan Kuper, kebangkitan fungsionalisme di tangan Malinowski dan strukturalisme di gengaman Radcliffe-Brown memperlihatkan bahwa “…golongan fungsionalis mengambil alih ‘sosiologi’ tetapi menanggalkan unsur referensi khusus kepada sejarah kuno… yang merupakan ciri khas evolusionisme. Mereka tidak hanya menolak difusionisme tetapi juga etnologi secara keseluruhan sehingga selama satu generasi, kedudukan etnologi, termasuk sejarah spesifik, terabaikan oleh antropologi Inggris” (Kuper 1996: 3). Pertengahan dasawarsa 1920-an, Radcliffe-Brown secara tegas menyatakan: “Saya yakin bahwa pertentangan yang benar-benar penting dalam antropologi sekarang ini bukanlah antara ‘evolusionis’ dan ‘difusionis’,… melainkan antara sejarah yang bersifat menduga-duga di satu pihak dan kajian fungsional mengenai masyarakat di pihak lain” (ibid: 4 penekanan ditambahkan). Bagi para guru antropologi generasi kedua ini, evolusionisme disamakan dengan ‘sejarah yang bersifat menduga-duga’ yang harus berhadapan dengan ‘kajian fungsional’ yang lebih ‘ilmiah’ dalam wacana akademik saat itu.
Kehadiran gagasan-gagasan Marx dan kaum evolusionis, baik di lingkungan akademik Inggris jarang sekali, seperti yang diamati oleh Raymond Firth bahwa “karya-karya antropolog pada umumnya begitu bersemangat mengeluarkan segalanya, tapi dengan pemanfaatan gagasan-gagasan Marx tentang dinamika masyarakat begitu sedikit”(Firth 1984: 6). Antropologi sosial Inggris lebih terpengaruh oleh tradisi l’ Année Sociologique yang menyabang dari gagasan-gagasan Emile Durkheim dan pemikir klasik seperti Auguste Comte, John S. Mill, dan Herbert Spencer (lih. Kuper 1996). Kebanyakan teoritikus antropologi budaya Amerika Serikat yang dididik dalam tradisi tafsir-simbolik pun lebih banyak mengambil hikmah dari karya-karya Max Weber ditambah karya ekonom Alfred Marshall dan Vilfredo Pareto. Sebelum itu, Frans Boas dan anaknya didiknya, terutama Ruth Benedict menyerap gagasan-gagasan filsafat Herder, William Dilthey, dan pemikir yang sejalan dalam menyebarkan gagasan relativisme budaya dan pemahaman semantik atas budaya (Sahlin 2000: 14). Pemikiran Marx juga sepenuh hati ditolak karena dianggap berbau ideologi. Pandangan ini terutama muncul ketika berakhirnya Perang Dunia II dan dimulainya Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet pada pertengahan dasawarsa 1940-an. Seperti dinyatakan C. Wrigth Mills di awal 1960, “dalam masyarakat kapitalis, gagasan Marx diabaikan atau lebih buruk lagi diabaikan karena dikaitkan dengan pandangan terhadapnya sebagai ‘hanya ideologi kaum komunis’. Oleh karena itu gagasan Marx, Engels, atau Lenin ditangani sebagai ‘urusan politik luar negeri’ ketimbang objek kajian serius (Chopan dan Seddon 1984: 3-46). Tapi bila dicermati, bau ideologi semata tidak bisa menjadi alasan menolak Marx karena karya-karya Durkheim, Weber, dan pemikir konservatif lainnya yang didatangkan dari Eropa daratan dan menjadi sumber insprirasi teoritik antropologi di Amerika, banyak juga kadar ideologinya. Teoritisi antropologi sebenarnya siap dan ingin sekali membeli ideologi konservatif yang terbungkus mantel teori; bukan teori radikal yang ditawarkan Marx dan kaum evolusionis yang dianut hampir secara dogmatik oleh para ilmuwan sosial Soviet dan neger-negeri komunis lainnya. Antropologi yang telah menjadi disiplin akademik yang relatif mapan menjadi jauh dengan gagasan evolusioner dan berupaya untuk melanggengkan diri sebagai ilmu yang dihormati, bila tidak mau disebut konservatif, yang menjadi bagian dari ilmu sosial mapan dalam tatanan masyarakat kapitalis. Tidak hanya di mata politikus liberal atau di mata jenderal-jenderal patriotik Amerika Serikat, Marxisme juga merupakan najis berbahaya di lingkungan akademik di Amerika Serikat dan Inggris. Paling tidak, pengaruh kuat Malinowski dan Boas membuat skema evolusi sosial dan materialisme sejarah menjadi ancangan teoritik yang ketinggalan jaman.
Iklim politik dunia pada dasawarsa 1950-an sangat tidak mendukung bagi antropolog Marxis untuk berperan dalam pengembagan teori-teorinya. Di Inggris mereka terhalang aksesnya dari situs-situs penelitian-penelitian kolonial Kerajaan Inggris dan di Amerika Serikat antropolog Marxis juga dipersempit kesempatannya untuk duduk di kursi pengajar universitas-universitas. Beberapa ilmuwan individual seperti Peter Worsley dan Ronald Frankenberg di Inggris, Eric Wolf dan Stanley Diamond di Amerika Serikat, memang telah mulai memanfaatkan teori Marxis dalam karya-karya mereka sejak akhir dasawarsa 1950-an. Tetapi tetap saja, hingga menjelang dasawarsa 1960-an aroma materialisme sejarah dan evolusionisme seperti lenyap dari jurusan-jurusan antropologi terhisap oleh pusaran ‘pembangunan kembali dunia’ pasca-Perang Dunia II yang membutuhkan teori-teori integratif dan mengutamakan keharmonisan dalam analisis sosial-budayanya.
Tempus mutantur, et nos mutantur in illid. Waktu berubah dan kita ikut berubah juga di dalamnya. Benih-benih perlawanan terhadap tradisi suci anti-materialisme sejarah sebenarnya sudah tampak di dasawarsa 1940-an. Dalam arena arkeologi, V. Gordon Childe terang-terangan mengambil hikmah dari ‘konsepsi materialis atas sejarah’-nya Marx. Begitu pula dalam teori termodinamika budaya yang dikembangkan Leslie A. White. Dari benih-benih ini tunas baru kajian materialis dalam ilmu sosial tumbuh di dunia penutur Bahasa Inggris. Pada tahun 1961, sekelompok sarjana ilmu sosial North Western University (Illinois) berkumpul untuk membincangkan “faedah teori evolusi bagi ilmu pengetahuan sosial dewasa ini” (Wertheim 2000: 5). Ini menjadi gejala awal kebangunan kembali perhatian pada evolusi secara lebih luas, dan pada gagasan Marxis secara khusus. Dalam sejarah antropologi di Amerika Serikat, fenomena mazhab ekologi budaya dan materialisme kebudayaan dari dasawarsa 1960-an tidak bisa lepas dari pertumbuhan tunas baru ini. Marvin Harris, teoritikus antropologi Amerika yang dikenal sebagai penggagas sekaligus penjaga benteng ‘materialisme kultural’ sejak dasawarsa 1960-an, secara terang-terangan mengakui bahwa “materialisme kultural telah sungguh-sungguh dipengaruhi oleh karya Marx dan Engels dan oleh teoritisi pra-Leninis dan pra-Stalinis (seperti) Karl Kautsky dan Gregorii Plekhanov” (Harris 1991: 91).
Dalam dasawarsa 1960-an pula, di Universitas Columbia yang merupakan ‘rumah’ Franz Boas sekaligus menara suar yang menyebarkan cahaya antropologi ke penjuru Amerika, terjadi perubahan yang cukup berarti. Dengan wafatnya Boas, wafat pula gaya antropologinya yang mencurigai segala perampatan dan lebih menekankan kajian-kajian terperinci atas subjek tertentu. Kursi pimpinan jurusan antropologi diduduki Julian Steward yang kemudian dikenal sebagai pembawa bibit penafsiran baru atas evolusionisme. Steward menghendaki antropologi menjadi sebuah ilmu yang bisa menjelaskan bagaimana masyarakat menyesuaikan diri dengan lingkungan materialnya. Meski dianggap ‘kurang politis’, tidak sedikit mahasiswa-mahasiswa berorientasi Marxis betah berada dalam naungan bimbingan evolusionismenya. Mereka itu antara lain Eric Wolf, Marvin Harris, Morton Fried, atau Stanley Diamond yang mengembangkan dasawarsa 1980-an sebagai dasawarsa kembalinya materialisme historis ke dalam pangkuan antropologi.
Kebangkitan kembali perhatian terhadap Marx di dunia universitas Amerika dan Eropa Barat dasawarsa 1960-an mungkin bisa dikaitkan dengan perubahan-perubahan dalam masyarakat kapitalis tersebut. Krisis liberalisme memuncak sekitar dasawarsa 1960-an dan ditandai oleh munculnya gerakan-gerakan sosial dan kultural. Dalam kondisi penuh gugatan atas banyak hal yang terlembagakan dalam masyarakat Amerika ini seperti diskriminasi rasial, diskriminasi jender, peran keluarga tradisional dan gereja, rujukan dan penggunaan karya-karya Marx, Engels, Lenin dan karya pemikir Marxis lainnya, baik oleh kaum Kiri maupun Kanan, konon terjadi hampir-hampir massal. Ketimpangan sosial-ekonomi di dalam negeri dan di tingkat antarbangsa sebagai hasil ‘pembangungan kembali’ dunia pasca Perang Dunia Kedua memunculkan gerakan-gerakan intelektual Kiri Baru ke permukaan. Gerakan perlawanan ini tidak hanya terjadi di panggung Woodstock atau di jalan-jalan kota-kota besar jauh dari kampus tempat antropolog berteori, tapi juga merasuk ke kedalamannya.
Di masa ini pula bangkit wacana kritik pascakolonial terhadap ilmu-ilmu sosial Eropa-Amerika (termasuk antropologi). Dalam lingkungan antropologi sendiri, kritik paling dini terhadap antropologi tradisional berupa kritik dan pencelaan terhadap kaitan historis antara antropologi di satu sisi, dan kolonialisme Eropa serta penjajahan yang dijalankannya di sisi lain. Pada masa kritis di dasawarsa 1960-1970-an ini, pukulan bertambah berat karena penyerangan Edward Said, seorang kritikus sastra keturunan Lebanon, dengan senjata berwujud istilah penuh konotasi negatif, yaitu “Orientalisme” (lih. Said 1990). Persoalan wacana ‘ilmu penjajah’ ini secara cepat bergerak ke persoalan lebih dalam lagi, yaitu dasar-dasar kerangka teoritik antropologi, khususnya asumsi-asumsi budaya borjuis Barat di dalamnya. Lambang pemersatu dari kritisisme baru dan dari alternatif teoritik yang menawarkan diri sebagai pengganti model lama ini, tiada lain adalah Karl Marx. Dari semua leluhur ilmu sosial modern abad ke-19, Marx memang secara menyolok absen sebagai sumber ilham teoritik aliran utama. Keabsenan ini oleh para mahasiswa radikal dicurigai sebagai kelalaian yang disengaja.
Ketertarikan pada Marxisme yang mengusung kritik terhadap masyarakat kapitalis, tidaklah serta-merta melenakan para teoritisi antropologi dari dogmatisme tanpa kritik terhadap kekurangan-kekurangan gagasan Marxisme. Apalagi bila gagasan-gagasan itu digunakan untuk membaca persoalan tradisional antropolog yang masih dominan seperti kekerabatan dan masyarakat pra-kapitalis. Penghidangan kembali Marxisme di meja-meja teori antropologi sejalan dengan upaya kritik terhadap ancangan Marxisme Ortodoks dan pemasakan kembali gagasan Marx dalam kuali baru. Gerakan ini sering disebut sebagai neo-Marxisme. Di Perancis, karya filsuf marxis Perancis Louis Althusser dipadu dengan pemikiran antropologi Lévi-Strauss. Muncullah Maurice Godelier dan Claude Meillassoux yang menyambung gagasan Althusser bahwa ‘Marxisme bisa digunakan untuk memahami tatanan masyarakat pra-kapitalis’ sambil mencari hikmah dari kajian kekerabatan masyarakat pra-kapitalisnya Lévi-Strauss. Mata air baru penafsiran Marx dengan kacamata Lévi-Strauss ini muncul di Paris dasawarsa 1970-an. Dari situlah sungai Marxisme Struktural mengalir hingga Inggris dengan Maurice Bloch sebagai penjaga alirannya.
Selain di Perancis dan Inggris, gerakan Marxisme struktural juga konon berkembang di lingkungan antropologi Skandinavia, Belanda, dan India. Ciri umum gerakan ini adalah perhatiannya pada organisasi sosial dan politik dari produksi serta hubungan asimetris di dalamnya. Tidak seperti materialisme ekologis dan teori-teori Marxian lain yang berkembang di Amerika Serikat, Marxisme struktural tidak menekankan aspek lingkungan atau tekno-ekonomi sebagai kekuatan penentu, tetapi lebih menekankan penggambaran struktur hubungan-hubungan sosial yang mengikat orang dalam suatu kolektif. Ciri lainnya adalah perhatian pada kajian etnografi atas masyarakat pra-kapitalis dengan tekanan pada kajian kekerabatan yang merupakan bidang telaah tradisional dalam antropologi.
Kecenderungan lain dari mata air yang sama muncul juga di Perancis. Dalam kepustakaan sejarah antropologi, kecenderungan ini dikenal sebagai Mazhab Ekonomi Politik. Antropolog yang membangunnya antara lain Jonathan Friedman, Samir Amin, atau Joel Kahn. Bila Marxisme struktural menekankan pemusatan perhatian pada komuniti-komuniti kecil, maka Mazhab Ekonomi Politik memilih populasi yang lebih luas, yaitu dunia. Sebenarnya, seperti antropolog lainya mereka juga melakukan penelitian terhadap komuniti-komuniti terbatas, tetapi karena berpandangan tidak ada tempat di seluruh pelosok dunia yang tidak tersentuh tangan sakti kapitalisme, maka mau-tidak-mau cakupan analisis harus meluas dengan menempatkan komuniti yang diteliti dalam suatu jaringan luas formasi ekonomi kapitalisme. Dalam perkembangan lebih lanjut, barisan antropologi ekonomi politik ini dihubungkan dengan perkembangan teori keterbelakangan yang menjadi salah satu teori penting dalam kajian-kajian tentang kapitalisme dan Dunia Ketiga.
Bila L.H. Morgan dipandang sebelah mata di negerinya sendiri (Amerika Serikat) dan tidak dianggap sebagai tokoh penting dalam perkembangan antropologi Amerika, maka sebaliknya terjadi Uni Soviet. Teorinya tentang tahap-tahap evolusi masyarakat merupakan teori terpenting dalam perkembangan disiplin antropologi di Rusia. Sudah sejak akhir abad ke-19, bahan-bahan antropologi menarik perhatian kalangan terpelajar Rusia. Di antara tokoh itu adalah G. Plekhanov yang sudah diulas ringkas di atas. Plekhanov bukan hanya seorang filsuf revolusioner yang berada di garis depan revolusi Rusia, tapi juga ilmuwan yang giat menggali bukti-bukti ilmiah dari bumi antropologi untuk menegaskan materialisme historis sebagai teori sejati tentang masyarakat. Pada tahun 1929, sebuah pertemuan nasional antropologi diadakan di Leningrad. Dari pertemuan tersebut keluar keputusan bahwa materialisme historis adalah dasar pemikiran disiplin antropologi di Uni Soviet. Tentu saja, materialisme historis yang dimaksud adalah materialisme historis tafsiran Stalin yang berkeras bahwa skema evolusi semua masyarakat di dunia melalui lima tahap yang pasti, yaitu primitif-perbudakan-feodalisme-kapitalisme-komunisme (teori Lima Tahap Evolusi Stalin). Sejak saat itu, penelitian-penelitian etnografi dilakukan dalam rangka hasil keputusan tersebut. Salah satu proyek besar penelitian etnografi Uni Soviet adalah Pyervobytnoye Obsjtjestvo (1938) yang menggali pengetahuan tentang masyarakat primitif. Pasca Perang Dunia II, penelitian antropologi banyak tercurah pada tujuan integrasi suku-suku bangsa ke dalam masyarakat negara Uni Soviet. Sebagai salah satu negara terluas di dunia pada waktu itu, Uni Soviet didiami oleh begitu beragam suku bangsa dan kelompok agama. Pembangunan kembali Uni Soviet setelah babak-belur oleh perang tidak hanya menyibukkan barisan insinyur sipil, tapi juga ahli-ahli antropologi. Konon jumlah antropolog di Uni Soviet begitu banyak. Mereka tidak hanya berkarya dalam lembaga-lembaga pendidikan dan penelitian tapi juga ditempatkan sebagai staf penasihat pemerintah-pemerintah negara bagian dalam pengambilan kebijakan yang berkaitan dengan kelompok-kelompok suku bangsa atau agama. Dalam teori, boleh dikatakan tidak ada perkembangan berarti sejak 1929 hingga keruntuhan Uni Soviet tahun 1990.
Itulah sekadar gambaran singkat berbagai hubungan antara Marx, Engels, dan antropologi. Akhirnya, bila ditilik-tilik dengan seksama, hubungan antara Marx, Engels, Marxisme, marxis, dan antropologi pernah begitu dekat. Karl Marx dan pemikir Marxis yang ingin membedakan dirinya dari pemikir-pemikir sosialis sebelumnya lewat penguatan sisi ilmiah sosialismenya, telah mengambil banyak hikmah dari bahan-bahan sejarah dan antropologi. Bahan-bahan antropologi merupakan senjata ampuh dalam upaya merontokkan pandangan ahistoris pemikir-pemikir borjuis. Di sisi lain, ancangan teoritik Marx dan pemikir Marxis tidak sedikit pula mempengaruhi penyusunan teori-teori besar dalam sejarah antropologi seperti termaktub dalam teori energi, gerakan ekologi budaya, dan materialisme budaya di Amerika serta Marxisme struktural dan Antropologi Ekonomi Politik di Perancis. Oleh karena itu, kedudukan karya-karya Marx dan Engels dalam antropologi tidak bisa dipandang sebelah mata dan menjadi sama pentingnya dengan gerakan fungsionalisme, strukturalisme, atau simbolisme dalam sejarah teori antropologi.
Walahu’alam bishshawab…
Daftar Pustaka
MESW (Karl Marx and Frederick Engels Selected Works) dua volume (1962). Moscow: Foreign Languages Publishing House.[kumpulan karya Marx dan Engels ini termasuk yang otoritatif dan berisi hampir semua naskah-naskah terpenting yang disajikan secara lengkap. Volume I (679 hlm) sebagian besar memuat karya-karya Marx; sedangkan volume II (531 hlm) sebagian besar karya-karya Engels ditambah beberapa surat Marx-Engels kepada rekan-rekan]
MSW (Karl Marx Selected Writings), penyunting David McLellan (1985). Oxford: Oxford University Press. [kumpulan tulisan ini berisi hampir semua karya Marx dalam bentuk potongan-potongan penting dari karya-karya panjang termasuk surat-surat yang dikelompokkan ke dalam satuan urutan waktu dari tulisan masa muda, potongan disertasi doktoralnya, hingga surat menjelang akhir hayatnya. Penyunting juga memberi catatan atau komentar untuk setiap karya]
Bloch, Maurice (1983) Marxism and Anthropology: the history of a relationship. Oxford: Oxford University Press.
Engels, Frederick (1981/1884) The Origin of the Family, Private Property, and the State: in the light of the researches of Lewis H. Morgan (pengatar dan catatan oleh E.B. Leacock). London: Lawrence & Wishart.
Godelier, Maurice (1981) Perspectives in Marxists Anthropology. Cambridge: Cambridge University Press.
Gouldner, Alvin (1980) The Two Marxisms: contradictions and anomalies in the development of theory. New York: The Seabury Press.
Harris, Marvin (1980) Cultural Materialism: the struggle for a science of culture. New York: Vintage Books.
Harris, Marvin (1991) Anthropology: ships that crash in the night, dalam Perspectives on Behavioral Science: the Colorado lectures (editor: R. Jessor). Boulder: Westview Press, h 70-114.
Harris, Marvin (1992) Anthropology and the Theoritical and Paradigmatic Significance of the Collapse of Soviet and East European Communism, dalam American Anthropologist 94 (2), June, h. 295-305.
Hobsbawm, Eric J. (1979) The Age of Capital 1848-1875. New York: Mentor Book.
Kuper, Adam (1996) Pokok dan Tokoh Antropologi Mashab Inggris Modern. Jakarta: Bhratara.
Plekhanov, G. (2002) Masalah-masalah Dasar Marxisme. Jakarta: Hasta Mitra.
Plekhanov, G.(2006) Seni dan Kehidupan Sosial. Bandung: Ultimus.
Reed, Evelyn (2004) Pengantar, dalam F. Engels. Asal-usul Keluarga, Kepemilikan Pribadi, dan Negara. Jakarta: Kalyanamitra, hlm vii-xxxi.
Said, Edward (1990) Orientalisme. Bandung: Pustaka.
Wertheim, W.F (2000) Gelombang Pasang Emansipasi. Jakarta: Garba Budaya, KITLV, dan ISAI.
Coba utak-atik Marshal Sahlins (Stone age economics) dan Eric Wolf donk. gw pikir itu relevan kalo ngomong marx dalam antropologi.