Skip to content

Kelas dan Posisi Kami

September 22, 2009


Latar belakang

Kita semua adalah bagian dari sebuah konflik kasat mata yang dashyat yang bermula jauh sebelum kita semua lahir. Setiap aksi yang tampil netral saat ini akan menjadi sebuah keuntungan bagi salah satu pihak dalam situasi yang sepenuhnya strategis ini.

Pihak yang dominan dan berada di atas angin, yang bekerja keras tanpa henti untuk mencegah timbulnya setiap kesadaran tentang konflik ini.

Kami adalah partisan dari pihak yang lain. Jurnal ini adalah bagian dari kontra strategi kami. Untuk alasan ini juga, maka kami menuliskannya, kami tidak berharap banyak bahwa pendekatan kami ini akan langsung dimengerti.

Dimana kelas dan posisi kami

Apabila memang perlu untuk dijelaskan lebih lanjut, maka jurnal ini adalah tentang sebuah perjuangan kelas—tetapi bukan sebuah versi fotokopian yang seperti akan kalian lihat dalam jurnal “buruh” orang-orang kiri. Kami tidak akan menyusun jurnal ini untuk mengglorifikasikan kaum miskin dan kemiskinan (seperti yang juga biasa orang-orang kiri lakukan), melainkan untuk membicarakan apa yang terjadi saat ini, dengan sudut pandang yang lain. Kebanyakan orang Indonesia memang masih belum dekat dengan kondisi kemiskinan yang paling menyedihkan seperti yang pernah dialami dalam masa krisis seperti pada dekade 1960-an, tetapi pemerintah-pemerintah kita selalu mendorong kita untuk terus semakin dekat membayangkan akan terulangnya kembali kejadian seperti itu. Mengutip kata-kata dari seorang mantan karyawan PT. Dirgantara Indonesia yang tak lelah menggelar aksi protes: “saya bisa ngeliat, kalo satu saat nanti bakal ada waktunya untuk kita semua, buat ngelakuin perang antara kita lawan mereka. Memang sekarang belum waktunya aja, tapi waktu itu pasti akan datang.” Beberapa kelompok telah mengobarkan perangnya sejak hari ini, dan semoga akan terus berperang hingga akhir. Beberapa kelompok masyarakat akan dipaksa untuk berjuang pada saatnya nanti tiba; bukan saat semua orang kelaparan, melainkan saat telah ada cukup banyak orang yang mengerti kemana tatanan masyarakat saat ini menuju.

Lantas, siapakah kami? Jelas bukan kriminal kerah putih ataupun pekerja kerah biru di pabrik-pabrik pinggiran kota. Karyawan bermasa depan cerah seperti dalam tayangan-tayangan sinetron televisi dan buruh-buruh super hebat dalam bayangan para seniman realisme sosialis bagi kami sama saja: pecundang tolol yang masih juga menaruh respek pada dunia kerja bahkan memiliki relasi yang sensual dengan peralatan kerja mereka. Berapa banyak memang orang-orang yang ingin menjadi seorang pekerja? Bahkan tak seorangpun juga yang bergabung dengan serikat pekerja hanya untuk menjadi lebih dekat dengan “orang-orang biasa” selain para calon birokrat Kiri. Dan tentu saja, kebanyakan dari kita tak ada yang bergabung dengan serikat pekerja. Kita semua terpaksa bekerja, dan kita melakukannya demi mendapatkan uang. Walau kita membenci dunia kerja, kita semua membutuhkan uang sekedar untuk bertahan hidup dan mendapatkan respek.

Kelas bukanlah sebuah kondisi ataupun perbedaan warna kerah ataupun tingkat pendapatan yang mendefinisikan orang yang terjebak di dalamnya. Kelas yang kami maksud adalah mereka yang harus bekerja untuk bertahan hidup; dan hingga saat ini kita masih juga ada, tak peduli berbagai macam propaganda tentang kelas pekerja hadir sebelumnya. Kami harus bekerja untuk dapat bertahan hidup, sama sepertimu. Memang ada sebuah perbedaan besar antara seorang desainer terdidik dan seorang pelayan restoran. Yang satu mungkin adalah seorang bohemian yang masih bangga dengan pekerjaannya yang dapat memberi mereka banyak kuntungan finansial, sementara yang satunya lagi mungkin hanya terus menerus mengantar masakan dan membereskan meja makan, karena mereka membutuhkan uang untuk keluarga mereka atau mungkin juga sebaliknya. Tetapi mengesampingkan perbedaan tersebut, keduanya sama-sama menyedihkan , karena mereka harus menjual waktu hidup mereka sekedar untuk dapat bertahan hidup. Dan berbicara tentang hal ini, maka kelas bagi kami adalah pendefinisian diri kita yang mau tidak mau harus bekerja untuk dapat bertahan hidup.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.